WAHANANEWS.CO, Jakarta - Di tengah tekanan krisis iklim dan tantangan energi global yang semakin kompleks, Indonesia bersama Uni Eropa memperkuat komitmen kolaboratif dalam mempercepat transisi menuju pembangunan berkelanjutan berbasis inovasi hijau.
Keseriusan ini tercermin dalam gelaran RI–EU Science and Technology Collaboration Forum 2026 yang berlangsung pada Rabu (22/4/2026), sebagai wadah strategis untuk memperdalam kerja sama lintas kawasan.
Baca Juga:
Panas Bumi Pecah Rekor, PBB: Menunda Aksi Sama dengan Mengundang Maut
Forum yang diselenggarakan bertepatan dengan peringatan Hari Bumi ini mengusung tema “Green Technology for Sustainable Climate Solutions”.
Kegiatan tersebut menjadi ajang penting bagi pemerintah, akademisi, peneliti, hingga pelaku industri dari Indonesia dan Eropa untuk bertukar gagasan sekaligus memperkuat sinergi dalam pengembangan teknologi ramah lingkungan.
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) bersama Delegasi Uni Eropa untuk Indonesia mendorong terciptanya kolaborasi yang lebih luas dan setara.
Baca Juga:
PLTA Sipansihaporas Tapteng Jadi Penahan Bencana, ALPERKLINAS: Fondasi Energi Masa Depan Wajib Adaptif Iklim
Fokus kerja sama mencakup penguatan kapasitas riset, pengembangan teknologi hijau, serta perluasan jejaring inovasi global yang mampu memberikan manfaat konkret bagi masyarakat.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto menegaskan bahwa kemitraan Indonesia-Uni Eropa penting dalam menjawab kebutuhan bangsa melalui penguatan riset dan inovasi.
“Kita ingin memastikan bahwa riset, inovasi, serta sumber daya manusia menjadi kekuatan utama dalam menjawab kebutuhan bangsa Indonesia. Perguruan tinggi harus berada di garda depan dalam melahirkan talenta-talenta unggul yang memiliki perencanaan strategis. Forum ini mengangkat tema yang sangat relevan, yaitu teknologi hijau, yang merupakan salah satu solusi masa depan, yang menjadi kebutuhan kita,” ujar Menteri Brian.
Ia menambahkan bahwa pengembangan teknologi hijau memiliki peran strategis dalam mendorong transformasi industri nasional menuju arah yang lebih berkelanjutan.
Selain menjadi pilar pembangunan, teknologi ini juga dinilai mampu meningkatkan daya tarik investasi, khususnya melalui penyediaan energi yang tidak lagi bergantung pada bahan bakar fosil.
Forum ini sekaligus menegaskan komitmen kedua pihak untuk membangun kerja sama yang inklusif, setara, dan berorientasi pada solusi nyata.
Kolaborasi ini diharapkan dapat menghasilkan inovasi berbasis sains dan teknologi yang berdampak langsung pada peningkatan kualitas hidup masyarakat serta pelestarian lingkungan.
“Kami berharap kita bisa terus memperkuat komunikasi, sehingga bisa menjadi jembatan para peneliti, membuka akses bagi para mahasiswa dan dosen, serta membangun proyek-proyek kolaboratif yang bisa diukur dampaknya. Kita ingin kolaborasi Indonesia dan Uni Eropa semakin kuat dalam bentuk kolaborasi yang bisa dihasilkan oleh dua bangsa,” tutup Menteri Brian.
Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia, Denis Chaibi, menegaskan bahwa kemitraan ini merupakan bagian dari komitmen bersama dalam menghadirkan solusi berbasis sains dan teknologi yang aplikatif.
“Indonesia adalah mitra kunci bagi Uni Eropa dalam mendorong inovasi hijau. Dengan mendukung inisiatif Pemerintah Republik Indonesia yaitu 1.000 Green Engineers, berarti kami juga mewujudkan strategi Uni Eropa Global Gateway, menjalin kemitraan yang kuat di seluruh dunia. Kami berinvestasi pada generasi muda Indonesia, karena teknologi hijau akan membentuk masa depan kita bersama secara berkelanjutan, hingga berpuluh tahun mendatang,” jelas Duta Besar Denis.
Dalam forum tersebut, komunitas pendidikan Indonesia juga diperkenalkan dengan EU Green Engineering Hub, sebuah platform yang menyediakan akses informasi mengenai program pendidikan, beasiswa, peluang kolaborasi, serta jalur karier di bidang rekayasa hijau di Eropa.
Kehadiran platform ini diharapkan mampu memperkuat pengembangan sumber daya manusia unggul di sektor teknologi hijau.
Selain itu, sosialisasi skema pendanaan Horizon Europe turut membuka peluang lebih luas bagi peneliti dan akademisi Indonesia untuk terlibat dalam riset kolaboratif berskala global.
Bidang yang menjadi fokus antara lain perubahan iklim, energi, mobilitas, pangan, bioekonomi, sumber daya alam, pertanian, serta lingkungan hidup.
Komitmen kerja sama ini juga diperkuat oleh berbagai lembaga internasional, termasuk CIRAD, yang menyoroti pentingnya transformasi sumber daya alam menjadi inovasi hijau bernilai tambah.
Dalam sesi diskusi lintas pakar, sejumlah akademisi Indonesia turut memaparkan hasil riset dan pengalaman mereka.
Ova Candra Dewi dari Universitas Indonesia menjelaskan peluang karier masa depan di sektor teknologi hijau.
Sementara itu, Nunung Martina dari Politeknik Negeri Jakarta mempresentasikan inovasi pengolahan limbah menjadi energi berbasis kearifan lokal.
Arief Setyanto dari Universitas Amikom Yogyakarta juga memaparkan pengembangan teknologi mitigasi kebakaran hutan melalui proyek SILVANUS yang didukung Horizon Europe.
Forum ini dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan, mulai dari perguruan tinggi, kementerian dan lembaga negara, hingga organisasi masyarakat sipil dan komunitas pemuda.
Keterlibatan berbagai pihak ini menunjukkan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam memperkuat ekosistem sains dan teknologi nasional.
Sebagai tindak lanjut, Kemdiktisaintek menegaskan komitmennya untuk terus memperluas kerja sama internasional, meningkatkan kapasitas SDM, serta mendorong hilirisasi riset agar memberikan dampak nyata bagi masyarakat dan industri.
Upaya ini menjadi bagian dari strategi nasional untuk meningkatkan daya saing global sekaligus mempercepat transisi menuju ekonomi hijau yang inklusif dan berkelanjutan.
[Redaktur: Ajat Sudrajat]