Dikutip dari LiveScience, temuan utama dari penggalian tersebut adalah sebuah artefak resin pohon yang dibuat masa tersebut. Ini adalah contoh paling awal dari resin yang digunakan oleh orang-orang di luar Afrika.
Temuan tersebut menunjukkan kemampuan yang dikembangkan manusia untuk hidup di hutan hujan.
Baca Juga:
Tokoh Pemuda Betkaf Desak Ludia Mentasan dan Kuasa Hukumnya Segera Klarifikasi dan Minta Maaf kepada Masyarakat Adat di Raja Ampat
Analisis pemindaian-elektron mikroskop mengindikasikan artefak tersebut diproduksi dalam beberapa tahap.
Pertama, kulit pohon penghasil resin atau getah ditebang dan dibiarkan menetes ke batang dan mengeras. Kemudian resin yang telah mengeras tersebut dipatahkan dan dibentuk menjadi sebuah benda.
Fungsi dari artefak ini tidak diketahui, tetapi mungkin digunakan sebagai sumber bahan bakar untuk menyalakan api di dalam gua.
Baca Juga:
Ketua Komisi II DPRK Raja Ampat Geram atas Pernyataan Kepala Dinas PTSP Soal Kepentingan Investasi Dibanding Pariwisata
Damar serupa dikumpulkan selama abad ke-20 di sekitar Papua Barat dan digunakan untuk menyalakan api sebelum gas dan penerangan listrik diperkenalkan.
Selain resin, penelitian terhadap tulang-belulang hewan dari Mololo mengindikasikan bahwa orang-orang di masa tersebut berburu burung-burung yang hidup di tanah, hewan berkantung, dan kemungkinan megabats.
Meski Pulau Waigeo merupakan rumah bagi hewan-hewan kecil yang sulit ditangkap, orang-orang beradaptasi dengan menggunakan sumber daya hutan hujan di samping makanan yang tersedia di pesisir pantai.