WAHANANEWS.CO, Jakarta – Hasil survei terbaru Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) menunjukkan dinamika politik nasional yang cukup menarik pada pertengahan tahun 2026.
Di tengah menurunnya tingkat kepuasan masyarakat terhadap kinerja Presiden RI Prabowo Subianto,
Baca Juga:
Buntut Pernyataan Jatuhkan Prabowo Saiful Mujani Dipolisikan Tuduhan Makar
Partai Gerindra justru berhasil menempati posisi teratas dalam peta elektabilitas partai politik nasional.
Temuan ini menjadi sorotan karena untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir Gerindra mampu mengungguli PDI Perjuangan (PDIP), partai yang selama tiga kali Pemilu Legislatif (Pileg) berturut-turut selalu menjadi peraih suara terbanyak.
Berdasarkan hasil survei SMRC yang dirilis pada akhir Juli 2026, simulasi pilihan partai politik apabila Pemilu diselenggarakan saat ini menempatkan Partai Gerindra di posisi pertama dengan elektabilitas sebesar 16,9 persen.
Baca Juga:
24 Peserta Ikuti Lomba Perahu Tradisional Tahun 2024 Di Provinsi Jambi
Partai yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto tersebut unggul atas PDIP yang memperoleh 11,7 persen.
Sementara itu, Partai Golkar berada di posisi ketiga dengan raihan 9,6 persen, disusul Partai Demokrat yang mencatat elektabilitas sebesar 8,1 persen.
Meski demikian, peta persaingan politik nasional masih berpotensi berubah karena sebanyak 25,9 persen responden mengaku belum menentukan pilihan politiknya atau masih tergolong sebagai undecided voters.
Walaupun memimpin perolehan elektabilitas, capaian Gerindra pada survei Juli 2026 tercatat mengalami penurunan yang cukup signifikan dibandingkan hasil survei sebelumnya.
Pada periode Februari hingga Maret 2026, partai berlambang kepala Garuda itu sempat mencatat elektabilitas sebesar 29,3 persen.
Namun dalam beberapa bulan berikutnya, angka tersebut turun menjadi 16,9 persen.
Direktur Eksekutif SMRC, Deni Irvani, mencatat bahwa penurunan elektabilitas partai penguasa ini diduga berjalan seiring dengan merosotnya tingkat kepercayaan publik terhadap sejumlah program strategis pemerintah, seperti program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP).
Hasil survei juga memperlihatkan bahwa tingkat pengenalan masyarakat terhadap program KDMP tergolong tinggi. Sebanyak 76,9 persen responden mengaku mengetahui keberadaan program tersebut.
Namun demikian, tingkat optimisme masyarakat terhadap keberhasilannya masih rendah.
Sebanyak 61,1 persen responden menyatakan pesimis program itu akan berjalan sukses atau berkembang sesuai harapan.
Kondisi serupa juga terlihat pada pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Berdasarkan survei SMRC, sebanyak 61,6 persen masyarakat Indonesia mengaku kurang puas hingga tidak puas sama sekali terhadap implementasi program tersebut.
Menurunnya persepsi publik terhadap berbagai program pemerintah turut berkorelasi dengan tingkat kepuasan terhadap kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.
Dalam survei SMRC bertajuk "Kondisi Ekonomi Politik dan Approval Rating Presiden" yang dilakukan pada 5–19 Juli 2026, tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Presiden Prabowo tercatat berada di angka 51,1 persen.
Angka tersebut mengalami penurunan cukup tajam, yakni sebesar 30,1 poin persentase dibandingkan hasil survei pada November 2025 yang saat itu mencapai 81,2 persen.
Selain mengukur tingkat kepuasan publik, survei yang sama juga melakukan simulasi terbuka mengenai pilihan calon presiden.
Hasilnya menunjukkan nama Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi berada di posisi teratas dengan elektabilitas sebesar 35 persen.
Angka tersebut terpaut cukup jauh dari Prabowo Subianto yang memperoleh dukungan sebesar 14,5 persen dalam simulasi tersebut.
Temuan survei ini menggambarkan bahwa meskipun Gerindra masih menjadi partai dengan tingkat elektabilitas tertinggi, penurunan dukungan terhadap sejumlah program pemerintah dan merosotnya tingkat kepuasan publik terhadap Presiden Prabowo menjadi faktor yang turut memengaruhi dinamika politik nasional menjelang kontestasi politik berikutnya.
[Redaktur: Ajat Sudrajat]