WAHANANEWS.CO, Jakarta - Indonesia ternyata berada di jajaran teratas negara yang paling sering diguncang gempa bumi di dunia, hanya berada di bawah Jepang dalam daftar wilayah dengan aktivitas seismik tinggi.
Menentukan negara yang paling sering mengalami gempa sebenarnya bergantung pada metode pengukuran, jumlah gempa yang tercatat, kekuatan gempa, hingga kemampuan jaringan pemantauan seismik masing-masing negara.
Baca Juga:
Gempa Guncang Venezuela: 920 Tewas, Puluhan Ribu Orang Hilang
Namun, Jepang secara konsisten tercatat sebagai salah satu negara dengan aktivitas gempa paling tinggi, sementara Indonesia menempati posisi berikutnya karena kondisi geologisnya yang berada di kawasan sangat aktif.
Gempa bumi terjadi ketika batuan mengalami pergeseran secara tiba-tiba di sepanjang patahan pada kerak bumi sehingga melepaskan energi yang kemudian merambat sebagai gelombang seismik.
Banyak negara dengan aktivitas gempa tinggi berada di sepanjang Cincin Api Pasifik atau Pacific Ring of Fire, kawasan yang mengelilingi Samudra Pasifik dan menjadi tempat bertemunya sejumlah lempeng tektonik aktif.
Baca Juga:
Filipina Diguncang Gempa Magnitudo 7,8 Tewaskan 19 Orang Ratusan Luka-luka
Gempa bumi merupakan salah satu fenomena alam paling merusak karena guncangan kuat dapat menghancurkan bangunan dan infrastruktur sekaligus memicu bencana lanjutan seperti tsunami serta tanah longsor.
Aktivitas gempa terutama berkaitan dengan pergerakan dan interaksi lempeng tektonik, sementara sejumlah aktivitas seismik tertentu juga dapat berhubungan dengan proses vulkanik maupun faktor geologis lainnya.
Gempa bumi hingga kini tidak dapat dicegah, sehingga mitigasi, konstruksi bangunan tahan gempa, sistem peringatan dini, kesiapan perlengkapan darurat, dan pemahaman jalur evakuasi menjadi bagian penting dalam mengurangi risiko korban.
Berikut 10 negara yang dikenal memiliki aktivitas gempa tinggi berdasarkan rangkuman World Atlas dan HowStuffWorks.
Jepang: Negara dengan Aktivitas Gempa Sangat Tinggi
Jepang memiliki jaringan pemantauan seismik yang sangat padat sehingga getaran berkekuatan kecil yang mungkin tidak dirasakan masyarakat tetap dapat terdeteksi dan tercatat.
Posisi Jepang berada di kawasan pertemuan sejumlah lempeng tektonik aktif sehingga menjadikannya salah satu wilayah dengan aktivitas seismik paling intens di dunia.
Sekitar 10 hingga 20 persen gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,0 atau lebih disebut terjadi di Jepang maupun kawasan di sekitarnya.
Jepang berada di Cincin Api Pasifik yang dikenal sebagai zona dengan aktivitas tektonik dan vulkanik sangat tinggi di sekitar Samudra Pasifik.
Negara tersebut mengembangkan teknologi pemantauan gempa canggih dengan lebih dari 1.000 seismometer yang ditempatkan di berbagai wilayah untuk mendeteksi aktivitas seismik.
Sebagian besar gempa yang terdeteksi memiliki kekuatan kecil dan bahkan tidak disadari masyarakat, tetapi gempa besar tetap menjadi ancaman karena dapat menyebabkan kerusakan serta korban jiwa.
Jepang juga mengoperasikan sistem peringatan dini gempa secara nasional untuk memberikan informasi secepat mungkin kepada masyarakat sebelum guncangan kuat mencapai suatu wilayah.
Masyarakat tetap dianjurkan memiliki perlengkapan darurat, menyusun rencana menghadapi bencana, dan mengenali jalur evakuasi karena teknologi peringatan dini tidak menghilangkan ancaman gempa.
Indonesia: Aktivitas Seismik Nyaris Tanpa Henti
Indonesia berada di posisi kedua dalam daftar tersebut dan menjadi salah satu negara dengan aktivitas seismik paling tinggi karena terletak di kawasan pertemuan sejumlah lempeng tektonik aktif.
Posisi Indonesia yang berada di kawasan Cincin Api Pasifik membuat gempa bumi menjadi fenomena yang sangat sering terjadi di berbagai wilayah Nusantara.
Indonesia bahkan dapat mengalami gempa berkekuatan lebih dari magnitudo 6,0 dalam berbagai periode, termasuk gempa besar yang berpotensi menyebabkan kerusakan maupun tsunami.
Ribuan kejadian gempa dapat tercatat di Indonesia dalam satu tahun apabila seluruh aktivitas seismik dari berbagai magnitudo diperhitungkan.
Kondisi tersebut membuat kesiapsiagaan bencana menjadi sangat penting bagi Indonesia, terutama karena banyak kawasan padat penduduk berada relatif dekat dengan sumber gempa aktif.
China: Punya Sejarah Panjang Gempa Mematikan
China memiliki sejarah panjang gempa bumi besar yang menyebabkan kerusakan luas dan menempatkan negara tersebut sebagai salah satu wilayah dengan risiko seismik tinggi.
Gempa Tangshan pada 1976 dan gempa Sichuan pada 2008 menjadi dua contoh bencana gempa besar yang menimbulkan kerusakan sangat luas serta korban jiwa dalam jumlah besar.
Kerentanan China berkaitan dengan tekanan dan pergerakan sejumlah sistem tektonik aktif yang memengaruhi wilayah negara tersebut.
China juga memiliki kawasan pegunungan luas yang menghadapi risiko bencana ikutan ketika gempa terjadi, terutama tanah longsor dan runtuhan material dari lereng.
Kombinasi kondisi tektonik, bentang alam, kepadatan penduduk, dan pembangunan infrastruktur membuat dampak gempa besar di China dapat menjadi sangat serius.
Filipina: Gempa dan Gunung Berapi Jadi Ancaman
Filipina berada di sepanjang batas lempeng aktif dalam kawasan Cincin Api Pasifik sehingga gempa bumi menjadi ancaman alam yang kerap dihadapi negara tersebut.
Aktivitas seismik Filipina juga berjalan beriringan dengan tingginya aktivitas vulkanik karena negara kepulauan tersebut memiliki sejumlah gunung berapi aktif.
Kombinasi ancaman gempa bumi, letusan gunung berapi, tanah longsor, dan potensi tsunami membuat Filipina menghadapi risiko bencana geologi yang kompleks.
Meksiko: Ancaman dari Pantai Pasifik
Meksiko menjadi negara berikutnya yang memiliki aktivitas gempa tinggi, terutama karena wilayah pantai Pasifiknya berada dekat dengan zona tektonik aktif.
Proses subduksi lempeng di kawasan Samudra Pasifik berkontribusi terhadap tingginya aktivitas gempa yang dirasakan di sejumlah wilayah Meksiko.
Negara tersebut secara konsisten mencatat banyak gempa setiap tahun, termasuk beberapa kejadian besar yang pernah menyebabkan kerusakan berat di kawasan perkotaan.
Iran: Dikelilingi Patahan Aktif
Iran berada di kawasan dengan banyak patahan aktif akibat interaksi lempeng tektonik sehingga menjadi salah satu negara dengan ancaman gempa terbesar di Timur Tengah.
Sejarah Iran mencatat sejumlah gempa dahsyat yang menyebabkan puluhan ribu orang meninggal dunia serta menghancurkan permukiman dan infrastruktur.
Salah satu bencana terburuk terjadi di wilayah Gilan pada 1990 ketika gempa besar menewaskan lebih dari 40.000 orang.
Kondisi geografis dan keberadaan banyak patahan aktif membuat masyarakat Iran harus terus berhadapan dengan kemungkinan terjadinya gempa besar pada masa mendatang.
Turki: Berada di Jalur Patahan Besar
Turki terletak di kawasan yang dipengaruhi sejumlah patahan besar dan pergerakan lempeng tektonik sehingga aktivitas gempa terjadi secara reguler.
Sejumlah gempa dahsyat yang pernah mengguncang Turki menyebabkan kerusakan luas terhadap kota, permukiman, jaringan transportasi, serta berbagai infrastruktur.
Besarnya populasi yang tinggal di kawasan dekat jalur patahan membuat risiko gempa di Turki semakin besar ketika terjadi guncangan berkekuatan tinggi.
Amerika Serikat: Alaska hingga California
Amerika Serikat memiliki sejumlah kawasan dengan aktivitas seismik tinggi, terutama Alaska dan California.
California dikenal dengan sistem Patahan San Andreas, sedangkan Alaska merupakan salah satu kawasan dengan aktivitas gempa paling tinggi di Amerika Serikat.
Ancaman gempa di Amerika Serikat tidak hanya berasal dari satu patahan karena negara tersebut memiliki bentang geologi luas dengan karakter seismik yang berbeda-beda.
Sistem Patahan San Andreas menjadi salah satu sumber ancaman utama di wilayah barat, sementara kawasan lain juga memiliki sumber gempa yang dapat menimbulkan dampak serius.
Jumlah penduduk yang besar dan keberadaan kawasan metropolitan padat membuat gempa kuat berpotensi menimbulkan kerugian ekonomi serta korban dalam jumlah besar apabila terjadi dekat pusat permukiman.
Peru: Gempa dari Cincin Api Pasifik
Peru berada di sepanjang Cincin Api Pasifik dan memiliki aktivitas gempa tinggi akibat proses subduksi lempeng di kawasan pantai barat Amerika Selatan.
Sebagian aktivitas seismik yang terjadi berupa gempa kecil, tetapi kondisi tektoniknya memungkinkan terjadinya gempa berkekuatan besar.
Lokasi sejumlah permukiman dan kota di wilayah yang dapat terdampak gempa membuat mitigasi bencana menjadi persoalan penting bagi Peru.
Italia: Salah Satu yang Paling Rawan di Eropa
Italia menjadi salah satu negara Eropa yang paling dikenal rawan gempa karena kondisi tektoniknya dipengaruhi interaksi sejumlah sistem lempeng dan patahan aktif.
Bentang alam Italia yang terdiri dari pegunungan, kawasan vulkanik, dan dataran pantai turut memperlihatkan kompleksitas geologi negara tersebut.
Wilayah Italia dipengaruhi interaksi Lempeng Eurasia dengan sistem tektonik di kawasan Mediterania, termasuk pengaruh Lempeng Adriatik, Anatolia, dan kawasan Laut Aegea.
Italia juga memiliki sejarah panjang gempa merusak, termasuk gempa Messina pada 1908 yang menewaskan lebih dari 75.000 orang.
Gempa Irpinia pada 1980 juga menjadi salah satu bencana besar dalam sejarah modern Italia dengan korban meninggal lebih dari 2.400 orang.
Ancaman gempa tetap menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Italia karena sejumlah kota bersejarah maupun infrastruktur modern berada di kawasan dengan risiko seismik.
Daftar tersebut menunjukkan negara-negara di kawasan Cincin Api Pasifik mendominasi wilayah dengan aktivitas gempa tinggi, termasuk Jepang dan Indonesia yang berada di dua posisi teratas.
Bagi Indonesia, tingginya aktivitas seismik menjadi pengingat bahwa gempa bukan ancaman yang dapat dihilangkan, tetapi risikonya dapat ditekan melalui mitigasi, kesiapan masyarakat, pembangunan tahan gempa, dan sistem peringatan bencana yang semakin baik.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]