WahanaNews.co | Semua pasangan pastinya menginginkan hubungan pernikahan yang sehat di mana masing-masing saling respek, saling mencintai,serta penuh dengan keharmonisan. Namun sayangnya, yang kerap kita lihat di dunia nyata justru sebaliknya.
Ada banyak rumah tangga yang tetap berjalan bertahun-tahun meski masing-masing pihak sering bertengkar, saling cekcok, bukan sekali dua kali melakukan perselingkuhan, dan banyak indikator pernikahan tidak sehat lainnya.
Baca Juga:
Anggota DPR RI Maruli Siahaan Hadir di Pernikahan Jesica dan Sugama, Doakan Kehidupan Rumah Tangga yang Bahagia
Supaya hal tersebut tidak sampai terjadi, berikut ini beberapa sikapyang sebaiknya dihindari karena dapat memicu pernikahan tidak sehat:
1. Pelit pujian
Sikap selanjutnya yang dapat mendorong pernikahan tidak sehat, yaitu pelit pujian terhadap pasangan. Jangan salah, lho, setiap orang meskipun enggan untuk mengaku tapi nyatanya bakal senang ketika mendapat pujian. Terutama dari orang yang paling disayang.
Baca Juga:
Anggota DPR RI Maruli Siahaan Hadiri Pernikahan Cornelia Agrathia Boru Siahaan dan Bernardo Petrus Siringoringo di Medan
2. Mengabaikan keintiman
Sering kali pasangan menikah menganggap keintiman sebagai hubungan seksual semata. Padahal, keintiman dalam suatu hubungan lebih dari itu, lho. Di antara keintiman yang gak kalah penting dengan keintiman fisik adalah keintiman emosional.
Contoh keintiman emosional di antaranya, mendengarkan pasangan baik-baik ketika sedang berbicara. Selain itu bisa pula dengan tidak langsung menghakimi ketika pasangan berbuat salah.
Hal seperti ini meski terkesan sepele, tapi nyatanya bisa menentukan kedekatan emosional antara pasangan yang menentukan harmonis atau tidaknya sebuah hubungan, lho.
3. Kurang peka membaca isyarat tubuh
Dalam komunikasi yang sehat gak hanya penting memahami komunikasi verbal pasangan, tapi juga non verbal. Gak semua orang bisa dengan leluasa membicarakan semuanya secara terbuka. Ada kalanya hanya mampu ditunjukkan lewat isyarat tubuh.
Di sinilah penting sekali masing-masing individu untuk bisa peka dalam membaca bahasa tubuh pasangannya. Jangan sampai sudah jelas pasangan sedang sangat emosional malah dibuat murka. Akhirnya, persoalan kecil bisa menjadi besar. [ast]