WAHANANEWS.CO, Jakarta - Siapa sangka, populasi unta liar terbesar di dunia ternyata bukan berada di Timur Tengah atau Afrika, melainkan berkeliaran di hamparan gurun Australia dengan jumlah yang diperkirakan mencapai ratusan ribu ekor.
Australia yang lebih dikenal sebagai Negeri Kangguru tercatat memiliki populasi dromedaris atau unta arab liar terbesar di dunia.
Baca Juga:
Petugas Satwa Gerebek Peternakan Kecoa Ilegal Rp2,5 Miliar, 100 Ribu Ekor Disita
Jumlah pasti unta liar di Australia sulit diketahui karena hewan-hewan tersebut hidup dan berpindah di wilayah pedalaman serta gurun yang sangat luas.
Melansir Space Daily, sejumlah perkiraan menyebut populasi unta liar Australia pernah mencapai sekitar satu juta ekor pada 2010.
Pemerintah dan pengelola wilayah kemudian menjalankan berbagai program pengendalian untuk mengurangi jumlah unta yang berkembang pesat di alam liar.
Baca Juga:
Populasinya Meledak dan Rugikan Negara, Australia Punya Cara Tak Biasa Atasi Ikan Mas
Program tersebut berhasil menekan jumlahnya, tetapi sejumlah estimasi terkini masih menempatkan populasi unta liar Australia pada kisaran ratusan ribu hingga sekitar satu juta ekor.
Keberadaan populasi unta dalam jumlah sangat besar di Australia sebenarnya mempunyai sejarah panjang yang bermula dari kebutuhan transportasi pada abad ke-19.
Berawal dari Hewan Pengangkut
Para kolonis mendatangkan unta ke Australia pada abad ke-19 untuk membantu mengangkut barang melintasi wilayah pedalaman yang sulit dijangkau menggunakan kuda.
Karakteristik unta yang mampu bertahan menghadapi kondisi panas dan kering membuat hewan tersebut cocok digunakan sebagai sarana transportasi di kawasan pedalaman Australia.
Unta kemudian memainkan peranan penting dalam membawa berbagai kebutuhan dan perlengkapan menuju kawasan yang sulit dijangkau menggunakan moda transportasi lain pada masa tersebut.
Muatan yang dibawa menggunakan unta mencakup perbekalan, perlengkapan pembangunan jaringan telegraf, hingga material untuk membangun jalur kereta api.
Para pawang unta yang berasal dari kawasan yang kini menjadi Pakistan dan Afghanistan juga mempunyai peranan besar dalam pengembangan transportasi berbasis unta di pedalaman Australia.
Kehadiran para pawang tersebut membantu perjalanan dan pengangkutan barang melintasi kawasan pedalaman yang memiliki kondisi geografis ekstrem.
Peranan unta sebagai sarana transportasi mulai berkurang setelah perkembangan kendaraan bermotor memungkinkan pengangkutan barang dilakukan dengan lebih cepat dan efisien.
Kemajuan transportasi bermotor akhirnya membuat pemeliharaan unta dianggap tidak lagi sebanding dengan manfaat ekonomi yang diberikan.
Sebagian unta kemudian dilepaskan ke alam liar dan secara bertahap membentuk populasi yang mampu berkembang secara mandiri tanpa bergantung kepada manusia.
Lingkungan Australia bagian tengah ternyata menyediakan kondisi yang sangat mendukung kehidupan dan perkembangbiakan unta.
Minimnya predator alami menjadi salah satu faktor yang memungkinkan populasi unta berkembang dengan cepat di kawasan tersebut.
Ketersediaan vegetasi yang dapat dikonsumsi serta kemampuan unta bertahan dalam lingkungan kering semakin mendukung pertumbuhan populasi mereka.
Kemampuan berkembang biak dalam kondisi alam Australia membuat jumlah unta liar kemudian meningkat pesat hingga menjadi salah satu populasi hewan invasif yang mendapat perhatian.
Pertumbuhan populasi tersebut pada akhirnya menimbulkan persoalan bagi pengelola lahan dan masyarakat yang tinggal di kawasan pedalaman Australia.
Unta liar dapat merusak pagar ketika bergerak melintasi kawasan peternakan maupun lahan yang dikelola masyarakat.
Hewan tersebut juga dapat mengganggu sumber air yang memiliki peranan sangat penting bagi manusia, ternak, dan satwa lain di wilayah kering Australia.
Unta bahkan mampu mengonsumsi sebagian besar jenis tanaman yang tersedia di habitatnya sehingga populasi yang terlalu besar dapat memberikan tekanan terhadap vegetasi setempat.
Kondisi tersebut membuat pengendalian populasi menjadi bagian penting dalam pengelolaan unta liar di Australia.
Berpotensi Menjadi Komoditas Premium
Besarnya populasi juga membuka peluang ekonomi karena sebagian unta Australia mulai dimanfaatkan untuk perdagangan, peternakan, maupun pengembangan berbagai produk bernilai tinggi.
Unta Australia dipasarkan dalam jumlah terbatas untuk keperluan pembiakan, pelatihan, dan peternakan.
Namun, perdagangan unta tersebut hingga kini masih jauh dari skala industri besar apabila dibandingkan dengan jumlah populasi yang hidup di alam liar.
Tingginya biaya menjadi salah satu tantangan utama dalam mengembangkan unta liar Australia menjadi komoditas komersial dalam skala besar.
Unta yang hidup bebas harus terlebih dahulu dikumpulkan dari kawasan pedalaman yang luas dan sering kali berada jauh dari fasilitas transportasi maupun pusat pengolahan.
Setelah dikumpulkan, unta harus diangkut menuju fasilitas pengolahan atau pelabuhan sehingga menambah biaya logistik untuk setiap ekor.
Proses pemeriksaan kesehatan dan berbagai persiapan lain yang diperlukan sebelum ekspor turut meningkatkan biaya perdagangan unta Australia.
Rangkaian proses tersebut membuat biaya membawa seekor unta dari pedalaman menuju pasar domestik maupun internasional menjadi relatif tinggi.
Sebagian perdagangan unta Australia kemudian diarahkan menuju sejumlah negara, termasuk Malaysia dan Indonesia.
Selain perdagangan hewan hidup, potensi ekonomi juga mulai berkembang melalui produk turunannya seperti daging dan susu unta.
Susu unta menjadi salah satu produk yang menarik perhatian karena dapat dipasarkan sebagai produk premium dengan harga jual relatif tinggi.
Potensi harga premium tersebut membuka peluang bagi peternakan unta untuk mengembangkan pasar yang berbeda dari peternakan konvensional.
Namun, tingginya harga jual susu unta belum otomatis membuat seluruh usaha peternakan unta di Australia mampu menghasilkan keuntungan secara berkelanjutan.
Peternakan unta masih menghadapi berbagai tantangan ekonomi, mulai dari biaya pemeliharaan hingga terbatasnya skala pasar untuk produk yang dihasilkan.
Dalam sejumlah kasus, pengelola peternakan membutuhkan sumber pendapatan tambahan untuk menjaga keberlanjutan operasional bisnis mereka.
Pariwisata dan layanan akomodasi kemudian menjadi salah satu sumber pemasukan tambahan yang dikembangkan berdampingan dengan kegiatan peternakan unta.
Dari hewan pengangkut yang didatangkan untuk menembus kerasnya pedalaman pada abad ke-19, unta akhirnya berkembang menjadi populasi liar dalam jumlah sangat besar sekaligus membuka peluang komoditas premium bagi Australia.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]