WAHANANEWS.CO, Jakarta - Perasaan cemas, sedih, hingga lelah mental setiap kali membuka ponsel ternyata bisa menjadi tanda seseorang mengalami overstimulasi akibat media sosial yang terus membombardir otak tanpa jeda.
Arus konten yang muncul tanpa henti di Instagram, TikTok, X, hingga platform digital lainnya disebut dapat memicu doom scrolling, rasa FOMO, insecure, kecemasan, bahkan depresi secara perlahan.
Baca Juga:
Motor Inventaris TNI Dicuri di Simalungun, Satu Pelaku Dilumpuhkan
Tanpa disadari, kebiasaan terus memantau layar ponsel juga membuat seseorang merasa lebih kesepian dan tertekan meski terus terhubung dengan dunia digital.
Kondisi ini muncul karena otak dipaksa terus menerima stimulasi visual, notifikasi, serta dorongan untuk membuka aplikasi secara berulang.
Padahal, tubuh sebenarnya sedang membutuhkan waktu untuk beristirahat dan melepaskan diri dari tekanan informasi yang datang terus menerus.
Baca Juga:
Bikin Merinding, 9 Benda di Rumah Ini Dipercaya Bisa Datangkan Sial dan Energi Negatif
Melansir informasi dari laman karir.feb.ugm.ac.id dan mindfulcenter.org pada Kamis (21/5/2026), salah satu cara yang bisa dilakukan untuk mengurangi dampak tersebut adalah melakukan detox media sosial.
Salah satu langkah awal yang disarankan adalah melakukan detox waktu penggunaan layar ponsel.
Detox waktu berarti seseorang mulai lebih disiplin dan bijak saat menggunakan HP dalam aktivitas sehari-hari.
Cara ini bisa dilakukan dengan mengambil jeda selama 24 jam penuh atau setidaknya satu akhir pekan tanpa membuka media sosial, bermain game, maupun melakukan streaming hiburan digital.
Selain itu, penggunaan layar juga disarankan dibatasi pada jam-jam tertentu yang dianggap rawan mengganggu kualitas istirahat.
Misalnya dengan menghentikan aktivitas bermain HP setelah pukul 22.00 agar otak mendapat waktu untuk rileks sebelum tidur.
Mematikan notifikasi yang tidak penting juga disebut dapat membantu meningkatkan fokus dan keterlibatan penuh terhadap aktivitas di dunia nyata.
Tak hanya detox waktu, seseorang juga dianjurkan melakukan detox dari platform media sosial tertentu yang memicu tekanan mental.
Beristirahat sementara dari Instagram, TikTok, X, Threads, hingga LinkedIn dipercaya dapat membantu memulihkan kondisi emosional dan kesehatan mental.
Langkah tersebut dapat dilakukan dengan menghapus aplikasi sementara atau memakai fitur deactive pada akun media sosial tertentu.
Platform yang dipenuhi komentar negatif, ujaran kebencian, hingga arus konten tanpa henti disebut menjadi pemicu utama overstimulated digital pada banyak orang.
Dengan mengurangi interaksi digital berlebihan, seseorang dinilai bisa membangun hubungan sosial yang lebih sehat melalui interaksi langsung di dunia nyata.
Selain itu, detox interaksi juga dinilai penting untuk membantu pikiran lebih tenang dan tidak terus menerus terpaku pada layar ponsel.
Cara ini dapat dilakukan dengan membuat “zona nyaman” pribadi berupa waktu khusus tanpa membuka media sosial maupun email.
Waktu jeda tersebut misalnya diterapkan saat malam hari atau akhir pekan agar tubuh dan pikiran memiliki kesempatan untuk beristirahat.
Seseorang juga disarankan mulai menerapkan jeda waktu saat membalas pesan agar tidak merasa harus selalu tersedia setiap saat.
Mengisi waktu dengan aktivitas produktif di luar layar ponsel juga dinilai efektif untuk membantu mereset pikiran dari pengaruh algoritma media sosial.
Meski demikian, teknologi tidak sepenuhnya harus dihilangkan dari kehidupan sehari-hari.
Penggunaan teknologi secara mindful atau sadar justru disebut menjadi solusi yang lebih realistis di era modern saat ini.
Seseorang tetap dapat menggunakan HP dengan cara yang lebih sehat seperti menonaktifkan notifikasi tidak penting dan menentukan sendiri kapan harus merespons pesan.
Selain itu, penggunaan mode grayscale pada layar ponsel juga dipercaya dapat membantu mengurangi stimulasi visual yang membuat seseorang terus ingin membuka HP.
Dengan penggunaan yang lebih terkontrol, media sosial diharapkan tidak lagi menjadi sumber tekanan mental yang menguras emosi setiap hari.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]