WAHANANEWS.CO, Jakarta - Menghadapi orang yang hobi bermain sebagai korban atau playing victim sering kali lebih melelahkan dibanding menghadapi konflik itu sendiri karena fakta kerap diputarbalikkan demi mencari simpati dan menghindari tanggung jawab.
Fenomena playing victim bukan sekadar istilah populer di media sosial, melainkan perilaku yang juga menjadi perhatian para peneliti psikologi karena dapat memengaruhi hubungan pertemanan, keluarga, hingga lingkungan kerja.
Baca Juga:
Nadiem Dituntut 18 Tahun Penjara, Mahfud MD Ragukan Unsur Niat Jahat dalam Kasus Chromebook
Penelitian yang dipublikasikan oleh ekonom Zafer Akin dari American University in Dubai pada 2022 menemukan perilaku "bermain sebagai korban" tergolong cukup tinggi dalam eksperimen sosial yang melibatkan partisipan dari Amerika Utara dan Timur Tengah.
Dalam studi tersebut, mayoritas peserta terbukti mencoba memperoleh kompensasi meski sebenarnya tidak mengalami kerugian yang menjadi syarat penerimaan bantuan.
Sementara itu, riset yang dikutip Scientific American menunjukkan individu dengan kecenderungan victimhood lebih mudah menganggap tindakan orang lain sebagai serangan yang disengaja sehingga konflik sering membesar karena perbedaan persepsi.
Baca Juga:
Rupiah Kembali Tertekan ke Rp17.839 per Dolar AS Meski PMI Manufaktur dan Neraca Dagang Menguat
Lalu bagaimana cara menghadapi orang yang gemar playing victim tanpa ikut terjebak dalam drama yang mereka ciptakan.
Berikut beberapa langkah yang bisa dilakukan.
1. Dengarkan Secukupnya, Jangan Langsung Terbawa Emosi