Cerita berpusat di sebuah lapas bernama Labuhan Angsana, tempat para narapidana harus menjalani hari-hari penuh tekanan, intimidasi, serta ketidakadilan dari aparat maupun sesama penghuni penjara.
Ketegangan mulai meningkat ketika seorang tahanan baru masuk ke dalam lapas tersebut. Sejak saat itu, serangkaian kematian misterius mulai terjadi.
Baca Juga:
Dilema Cinta dan Uang, ‘Dopamin’ Sajikan Drama Rumah Tangga Penuh Ketegangan
Para napi ditemukan tewas dengan cara yang tidak wajar dan mengerikan, memicu kepanikan di dalam penjara.
Teror tersebut kemudian dikaitkan dengan kemunculan sosok hantu misterius. Konon, makhluk itu hanya mengincar individu dengan aura atau energi paling negatif.
Kepercayaan ini membuat para narapidana berusaha mengubah perilaku mereka.
Baca Juga:
Dilan ITB 1997, Cerita Baru tentang Cinta dan Gejolak Reformasi
Mereka berlomba-lomba berbuat baik demi menjaga “aura” tetap positif agar terhindar dari maut.
Namun, perubahan tersebut bukan perkara mudah. Lingkungan lapas yang sarat kekerasan dan ketidakadilan justru menjadi tantangan besar.
Tekanan yang terus-menerus membuat emosi para napi sulit dikendalikan, sehingga konflik kerap tak terhindarkan.