WAHANANEWS.CO, Jakarta - Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) memberikan apresiasi terhadap upaya pelestarian sejarah dan kebudayaan Batak yang diwujudkan melalui kehadiran Huta Art Space.
Ruang seni ini digagas oleh fotografer Indonesia, Edward Tigor Siahaan, dan resmi berdiri pada 5 Desember 2024 sebagai wadah ekspresi serta apresiasi seni di kawasan Danau Toba.
Baca Juga:
Kunjungi Sumedang, Menteri Kebudayaan RI Dorong Revitalisasi Situs Bersejarah
Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, menilai keberadaan Huta Art Space sebagai contoh konkret pemajuan kebudayaan yang berakar dari kecintaan masyarakat terhadap identitas lokal.
Menurutnya, inisiatif yang lahir dari kesadaran dan kepedulian individu mampu memberi dampak luas bagi kebudayaan nasional.
“Apa yang dilakukan Bapak Tigor ini merupakan contoh bagaimana kecintaan pada budaya bisa memajukan kebudayaan nasional,” katanya seperti dolaporkan RRI, Minggu, 8 Februari 2026.
Baca Juga:
Kemenbud Resmikan Galeri Cagar Budaya Gereja Immanuel, Fadli Zon: Living Museum Sejarah Bangsa
Lebih lanjut, Fadli Zon menjelaskan bahwa kehadiran ruang seni tersebut mencerminkan kepedulian nyata terhadap keberlangsungan budaya Indonesia.
Ia menilai, upaya tersebut sejalan dengan amanat konstitusi yang menegaskan pentingnya pemajuan kebudayaan nasional di tengah dinamika peradaban dunia.
Selain itu, ia juga mengapresiasi langkah Edward Tigor Siahaan yang memilih kembali ke kampung halamannya di Siborong-Borong untuk membangun ruang budaya yang dikelola secara mandiri.
Huta Art Space dirancang sebagai pusat aktivitas seni dan kebudayaan yang tidak hanya berfungsi sebagai ruang pamer, tetapi juga sebagai ruang interaksi dan pembelajaran budaya.
“Saya berterima kasih kepada Bapak Tigor yang telah membangun Huta Art Space sebagai satu kantong budaya. Tempat ini tidak hanya menjadi ruang pamer, tetapi juga ruang aktivitas budaya yang hidup dan dirancang sendiri oleh beliau,” ujarnya.
Sementara itu, Maestro Fotografi Indonesia, Darwis Triadi, menyoroti peran penting fotografi sebagai medium yang mampu menjembatani generasi serta merekam perjalanan peradaban.
Ia menegaskan bahwa fotografi tidak sekadar merekam peristiwa, tetapi juga menyimpan nilai, emosi, dan identitas sebuah bangsa.
“Fotografi bukan sekadar alat dokumentasi, tapi cermin jiwa sebuah bangsa. Dan Danau Toba punya jiwa yang sangat dalam,” ujarnya, menegaskan.
Di sisi lain, Pendiri Huta Art Space, Edward Tigor Siahaan, mengungkapkan bahwa pendirian ruang seni ini berangkat dari kegelisahannya terhadap minimnya ruang apresiasi seni di kawasan Danau Toba.
Ia berharap Huta Art Space dapat menjadi ruang yang menghadirkan pengalaman seni sekaligus memperkuat identitas budaya Batak.
“Huta Art Space menjadi tempat untuk merasakan ‘art experience’. Dan juga upaya merawat identitas Batak dan kawasan Danau Toba,” ucapnya.
[Redaktur: Ajat Sudrajat]