WAHANANEWS.CO, Jakarta - Setiap tahun, ratusan ribu mahasiswa Indonesia lulus dengan harapan besar bekerja sesuai jurusan, mendapat penghasilan layak, dan hidup mapan.
Namun, kenyataan sering kali tidak seindah ekspektasi.
Baca Juga:
Ranking Terbaru! Suku Batak Pimpin Daftar Lulusan Sarjana Terbanyak di Indonesia
Banyak lulusan baru justru harus menghadapi kenyataan pahit yakni menganggur selama berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun.
Stigma Sosial dan Tekanan Psikologis
Salah satu hambatan utama yang dihadapi lulusan baru adalah stigma terhadap pengangguran.
Baca Juga:
28 Mahasiswa STPK Matauli Diwisuda, Ini Harapan Kadis Pendidikan Tapteng
Di masyarakat Indonesia, pekerjaan sering dikaitkan dengan martabat dan kesuksesan.
Seorang sarjana yang belum bekerja kerap dianggap gagal atau tidak cukup berusaha.
Tekanan ini bahkan datang dari keluarga sendiri, yang memasang ekspektasi tinggi usai anaknya menempuh pendidikan tinggi.
Kondisi ini menimbulkan tekanan mental yang besar.
Banyak lulusan merasa kehilangan kepercayaan diri dan takut mencoba lagi, meskipun mereka sebenarnya telah berjuang keras mencari pekerjaan.
Studi Universitas Indonesia (Setiawan, 2020) menunjukkan bahwa tekanan sosial semacam ini berkontribusi terhadap meningkatnya stres dan kecemasan.
Gengsi dan Keengganan Memulai dari Bawah
Tak sedikit lulusan yang menolak pekerjaan yang tidak sesuai dengan jurusan atau dianggap “kurang bergengsi.”
Mereka merasa, setelah bertahun-tahun kuliah, seharusnya langsung mendapat posisi prestisius. Sayangnya, pola pikir ini membuat mereka melewatkan banyak peluang.
Dunia kerja lebih menghargai pengalaman, keterampilan, dan kemauan belajar dibanding sekadar ijazah (Hidayat, 2021).
Banyak profesional sukses justru memulai dari bawah sebelum akhirnya menanjak ke posisi yang lebih tinggi.
Efek Dunning-Kruger: Antara Percaya Diri dan Kenyataan
Fenomena psikologis Dunning-Kruger turut berperan: individu dengan kemampuan rendah cenderung melebih-lebihkan kompetensinya.
Lulusan dengan IPK tinggi atau pengalaman organisasi sering merasa cukup siap. Namun begitu terjun ke industri, mereka menyadari standar kerja jauh lebih tinggi.
Sebaliknya, mereka yang lebih kompeten justru kerap meragukan diri sendiri karena paham betapa kompleks dunia kerja sebenarnya (Rahmawati, 2022).
Media Sosial dan Realita yang Tersembunyi
Media sosial memperparah ekspektasi yang tidak realistis. Banyak orang hanya menampilkan pencapaian, bukan proses panjang dan sulit di baliknya.
Lulusan baru yang melihat teman-temannya "sukses" kerap merasa tertinggal dan mulai membandingkan diri, yang akhirnya berdampak negatif pada kesehatan mental (Prasetyo, 2023).
Peran Keluarga: Antara Dukungan dan Tekanan
Keluarga memegang peran penting.
Ada yang terlalu menekan anak untuk segera bekerja, ada pula yang terlalu memanjakan hingga membuat si anak terjebak dalam zona nyaman.
Keduanya bisa menghambat proses adaptasi dan pertumbuhan lulusan baru di dunia kerja (Santoso, 2024).
Penutup: Fleksibilitas adalah Kunci
Permasalahan lulusan baru tak hanya soal ketersediaan lapangan kerja, tetapi juga mentalitas dan kesiapan beradaptasi.
Gelar bukan jaminan sukses, melainkan langkah awal.
Ketimbang menunggu pekerjaan sempurna, lebih baik bersikap fleksibel, terus belajar, dan membuka diri terhadap peluang baru.
Dengan dukungan yang tepat dan kesiapan mental, setiap lulusan bisa meraih kesuksesannya sendiri.
[Redaktur: Ajat Sudrajat]