WahanaNews.co, Jakarta - Sejumlah elemen masyarakat mempertanyakan kinerja Kinerja Kepala UPT Terminal Terpadu Pulo Gebang, Emanuel Kristanto terkait pemakaian loket mobil bus AKAP di lantai MZ.
Sebab, berdasarkan informasi dan poto yang diterima WahanaNews memperlihatkan satu loket mobil bus AKAP di isi oleh 2-3 perusahaan otobus, sementara sebagian tidak terisi (kosong).
Baca Juga:
Refleksi Akhir Tahun 2025, Kapolres Nias Paparkan Capaian Kinerja dan Inovasi Pelayanan Publik
Berdasarkan Lampiran Peraturan Gubernur Daerah Khusus Ibukota Jakarta (Pergub DKI Jakarta) Nomor 67 Tahun 2020 Tentang Tarif Layanan Unit Pengelola Terminal Terpadu Pulo Gebang untuk layanan umum, a. tarif layanan UP TTPG Pemakaian Zona Pengendapan Mobil Bus AKAP sebesar Rp 10 ribu/kenderaan/hari, b. Tarif layanan UP TTPG Pemakaian Terminal Penumpang Mobil Bus AKAP sebesar Rp 8 ribu/kenderaan/hari.
Loket Bus AKAP yang tersedia tidak ter isi (kosong). (WahanaNews)
Sementara dalam huruf c disebutkan, tarif layanan UP TTPG pemakaian fasilitas Loket Mobil Bus AKAP sebesar Rp 300 ribu/perusahaan otobus/bulan.
Kepala UPT Terminal Terpadu Pulo Gebang, Emanuel Kristanto saat dimintai konfirmasi, Kamis (11/1) terkait loket yang di isi 2-3 perusahaan otobus dan apakah jika loket diisi lebih dari satu perusahaan otobus dikenakan tarif yang sama (Rp 300 ribu/bulan) tidak mendapat respon.
Baca Juga:
Soal Ancaman Purbaya Bekukan Bea Cukai, Komisi XI DPR Bilang Ini
Tidak sedikit kalangan menuding bahwa, Kepala UPT Terminal Terpadu Pulo Gebang diduga menyalahgunakan jabatannya, memanfaatkan loket bus AKAP untuk meraup keuntungan pribadinya, orang lain atau kelompoknya.
Satu Loket Bus AKAP diduga di isi beberapa perusahaan otobus. (WahanaNews)
Menanggapi hal tersebut, Kabid Riset dan Data Perkumpulan Radar Pembangunan Indonesia, Jaustan S meminta agar Kepala Dinas Perhubungan Prov DKI Jakarta, Syafrin Liputo melakukan audit terhadap kinerja Kepala UPT Terminal Terpadu Pulo Gebang, Emanuel Kristanto.
"Kita ketahui, Terminal Terpadu Pulo Gebang dibangun dengan luas lahan 12,6 Ha dan dengan luas bangunan 5,4 Ha. Terminal Terpadu Pulo Gebang merupakan terminal termoderen pertama di Indonesia yang diharapkan dapat mewakili citra Ibukota Negara dengan bentuk arsitektur yang berkualitas Internasional yang mengacu pada konsep modern dan multi level dimana adanya pemisahan antara sirkulasi penumpang (lantai 1 dan lantai MZ) dengan kenderaan umum (lantai 2)," ucap Jaustan.
Terminal ini dirancang oleh arsitek Paul Tanjung Tahun pada 2001, namun baru mulai dibangun pada 2009 dan merupakan terminal bus terbesar se-Asia Tenggara. Proyek ini diprakarsai oleh Dinas Perhubungan dan Transportasi Provinsi DKI Jakarta dan menghabiskan dana sebesar 450 miliar rupiah.
[Redaktur: JP Sianturi]