Untuk bagian senar, kecapi Dayak saat ini menggunakan kawat halus atau benang nilon yang mampu menghasilkan bunyi khas dan merdu.
Namun, pada masa lalu, masyarakat Dayak memanfaatkan bahan-bahan alami seperti rotan atau kulit kayu sebagai senar, menyesuaikan dengan ketersediaan alam di sekitar mereka.
Baca Juga:
Viral! Langit Kalteng Berkilau Warna-warni, BMKG Pastikan Bukan Tanda Bencana
Penggunaan bahan alami tersebut tidak hanya dipilih karena daya tahannya, tetapi juga diyakini mampu menciptakan nuansa bunyi yang sakral dan bernilai spiritual.
Karakter suara inilah yang menjadikan kecapi Dayak sangat selaras dengan fungsinya dalam ritual adat dan kegiatan budaya yang sarat makna.
Selain digunakan dalam acara adat, kecapi Dayak juga kerap dimainkan dalam berbagai pertunjukan seni, seperti tari perang dan nyanyian tradisional.
Baca Juga:
Menjaga Identitas Budaya Lewat Sertifikasi Tanah Ulayat di Sumba Timur
Alunan petikan kecapi mampu menghidupkan suasana pertunjukan sekaligus memperkuat pesan budaya yang ingin disampaikan kepada masyarakat.
Seiring perkembangan zaman, kecapi Dayak kini juga dikolaborasikan dengan alat musik tradisional lainnya, seperti rabab, suling, kangkanang, katambung, dan gandang.
Perpaduan musik tersebut sering ditampilkan dalam acara resmi daerah maupun festival budaya sebagai upaya pelestarian dan pengenalan musik tradisional kepada generasi muda.