WAHANANEWS.CO, Jakarta - Kepergian mendadak sosok Op Si Dafano atau Gomong Sinaga langsung menyisakan duka mendalam dan membuat publik tersentak, terlebih karena sehari sebelumnya ia masih tampil menghibur lewat siaran langsung sambil memainkan Sarune Etek pada Jumat (24/4/2026).
Kabar duka itu datang dari dunia seni dan hiburan Batak, di mana Gomong Sinaga dikenal sebagai seniman multitalenta yang menorehkan jejak sebagai pelawak, pegiat opera Batak, penyanyi, hingga pemain alat musik tradisional Sarune Etek.
Baca Juga:
Polda Jambi Tangkap Pelangsir dan Operator SPBU Lubuk Landai, Mirisnya SBPU Baganpete Di Kota Jambi ini Diduga Layani Pelangsir BBM Subsidi
Sebagai figur yang membumi, namanya semakin melejit ketika ia bergabung dengan grup lawak Batak Nai Malvinas yang pada masanya meraih popularitas luas melalui kaset rekaman yang laris dan digemari masyarakat.
Lawakan khas yang mereka tampilkan tak sekadar mengundang tawa, tetapi juga menyelipkan pesan kehidupan sehari-hari dengan nuansa budaya Batak yang kuat dan autentik.
Di masa tuanya, Gomong memilih hidup tenang di sebuah desa di tepi Danau Toba, tepatnya di Siambalo, Pangururan, Kabupaten Samosir, bersama sang istri.
Baca Juga:
TNI Kembali Gugur di Lebanon, HNW Minta PBB Tindak Tegas Israel
Meski usia tak lagi muda, aktivitasnya dalam menghibur tidak pernah surut karena ia tetap menjangkau penggemarnya melalui media sosial dengan konsistensi yang jarang dimiliki seniman lain di generasinya.
“Masih sempat menghibur, bahkan sehari sebelum berpulang ia terlihat memainkan Sarune Etek dalam siaran langsung,” menjadi gambaran yang terus dikenang oleh para penggemarnya.
Kepergian Gomong Sinaga bukan hanya kehilangan seorang pelawak, melainkan juga hilangnya penjaga tradisi yang setia merawat budaya Batak melalui karya-karyanya hingga akhir hayat.
Warisan seni dan dedikasinya menjadikan sosoknya tak tergantikan dalam perjalanan panjang seni pertunjukan Batak di Indonesia.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]