WAHANANEWS.CO, Jakarta - Guncangan kuat gempa bumi langsung memicu kewaspadaan tinggi di kawasan timur Indonesia setelah peringatan potensi tsunami diumumkan, memaksa warga menjauh dari pesisir demi keselamatan.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Kelas III Ternate, Maluku Utara, mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dengan tidak beraktivitas di pesisir pantai setelah gempa magnitudo 7,6 yang berpotensi tsunami, Kamis (2/4/2025).
Baca Juga:
Gempa M5,4 Guncang Sukabumi pada Dini Hari, Getarannya Terasa hingga Jakarta
"Masyarakat juga diminta untuk tidak melakukan aktivitas di pesisir pantai hingga ada pengumuman resmi bahwa ancaman tsunami telah berakhir," kata Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kelas III Ternate, Gede Eriksana Yasa.
Gempa bumi kuat tersebut mengguncang wilayah Bitung, Sulawesi Utara, pada pagi hari dan memicu peringatan dini tsunami di sejumlah wilayah termasuk Provinsi Maluku Utara dengan potensi ketinggian gelombang antara 0,3 hingga 5 meter berdasarkan hasil pemodelan.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar tetap tenang, tidak panik, namun tetap waspada serta hanya mengikuti informasi resmi dari BMKG dan pemerintah daerah.
Baca Juga:
Pacitan Diguncang Gempa 64 Magnitudo
"Diimbau tetap tenang dan tidak terpancing isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan, namun kewaspadaan harus tetap dijaga," ujarnya.
BMKG mencatat gempa terjadi pada pukul 07.48 WIT dengan magnitudo awal 7,6 yang kemudian dimutakhirkan menjadi 7,3 dengan episenter berada pada koordinat 1,25 lintang utara dan 126,27 bujur timur atau sekitar 127–129 kilometer tenggara Bitung pada kedalaman 18 hingga 62 kilometer.
Sejumlah wilayah di Maluku Utara seperti Kota Ternate, Kota Tidore Kepulauan, dan Halmahera masuk dalam status siaga dengan laporan awal adanya kenaikan muka air laut sekitar 30 sentimeter di Halmahera Barat meski belum terdapat laporan kerusakan signifikan maupun korban jiwa.
BMKG juga mencatat sedikitnya 15 kali gempa susulan terjadi setelah gempa utama yang menunjukkan aktivitas tektonik masih berlangsung dan berpotensi memicu guncangan lanjutan.
"Wilayah Laut Maluku memang memiliki banyak patahan aktif sehingga menjadi salah satu sumber gempa terbanyak, khususnya di bagian barat Halmahera," jelasnya.
Fenomena gempa ini disebabkan oleh aktivitas lempeng di Laut Maluku dengan mekanisme sesar naik atau thrust fault di kawasan pertemuan Lempeng Laut Maluku dengan sistem patahan Sangihe dan Halmahera yang dikenal sebagai zona seismik aktif.
Berdasarkan pemodelan BMKG, estimasi waktu tiba gelombang tsunami berbeda di sejumlah wilayah yakni Ternate sekitar pukul 06.53 WIT, Halmahera 06.54 WIT, dan Tidore 06.56 WIT, sementara wilayah Sulawesi Utara seperti Bitung dan Minahasa juga masuk dalam status siaga.
BMKG pun mengeluarkan arahan penting sesuai status peringatan di mana wilayah berstatus siaga diminta segera melakukan evakuasi oleh pemerintah daerah, sedangkan wilayah berstatus waspada diimbau menjauhi pantai dan tepian sungai.
Hingga laporan terakhir pada pukul 08.24 WIT, kondisi di sejumlah wilayah Maluku Utara terpantau relatif terkendali meski masyarakat tetap diminta siaga terhadap kemungkinan gempa susulan dan potensi gelombang lanjutan.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]