WAHANANEWS.CO, Jakarta - Gelombang bencana hidrometeorologi yang melanda Pulau Sumatra pada akhir November 2025 menyisakan luka mendalam di Aceh, setelah ratusan destinasi wisata porak-poranda diterjang banjir dan longsor.
Sebanyak 225 destinasi wisata di berbagai daerah terdampak bencana di Provinsi Aceh tercatat mengalami kerusakan dengan tingkat keparahan yang bervariasi.
Baca Juga:
Percepat Pemulihan Usai Bencana di Sumatera, Polri Kerahkan Alat Berat
Juru Bicara Pos Komando Penanganan Bencana Aceh Murthalamuddin menyebut, mayoritas kerusakan masuk kategori berat dan terjadi di wilayah yang terdampak langsung banjir serta longsor.
“Dari 225 destinasi wisata yang rusak, sebanyak 198 di antaranya rusak berat, 18 rusak sedang, dan sembilan rusak ringan,” kata Murthalamuddin.
Ia merinci, destinasi wisata yang mengalami rusak berat paling banyak berada di Kabupaten Gayo Lues dengan total 65 lokasi.
Baca Juga:
Akibat Bencana Perusahaan Banyak Tutup, Masyarakat Terancam PHK
Wilayah lain yang turut mencatat kerusakan parah adalah Aceh Tamiang sebanyak 42 lokasi, Bireuen 20 lokasi, Bener Meriah 19 lokasi, dan Pidie Jaya 13 lokasi.
Kerusakan berat juga ditemukan di Aceh Singkil sebanyak 10 destinasi, Aceh Utara dan Aceh Tengah masing-masing delapan lokasi, Aceh Timur enam lokasi, Aceh Tenggara empat lokasi, serta masing-masing satu lokasi di Langsa, Subulussalam, dan Aceh Barat.
Sementara itu, sembilan destinasi wisata yang mengalami kerusakan ringan tersebar di Kabupaten Aceh Utara dua lokasi dan Kota Langsa satu lokasi.
Destinasi rusak ringan lainnya tercatat masing-masing satu lokasi di Aceh Tengah dan Subulussalam serta dua lokasi di Bireuen.
Adapun 18 destinasi wisata yang masuk kategori rusak sedang tersebar di Aceh Utara, Lhokseumawe, Aceh Tengah, Subulussalam, Nagan Raya, Bener Meriah, dan Bireuen.
Tak hanya sektor pariwisata, bencana tersebut juga berdampak serius pada pelestarian warisan sejarah Aceh.
Sebanyak 162 cagar budaya dilaporkan terdampak bencana hidrometeorologi di berbagai kabupaten dan kota.
Murthalamuddin menjelaskan, dari jumlah tersebut sebanyak 56 cagar budaya mengalami rusak ringan, 90 rusak sedang, dan 16 rusak berat.
“Cagar budaya tersebut tersebar di berbagai kabupaten dan kota yang terdampak bencana,” ujar Murthalamuddin di Banda Aceh, Selasa (13/1/2025).
Ia menambahkan, saat ini pemerintah bersama berbagai pihak terkait tengah menyusun langkah-langkah pemulihan pascabencana.
Upaya penanganan darurat, menurutnya, masih terus berlangsung sebagai tahap awal sebelum masuk ke fase pemulihan jangka menengah dan panjang.
“Penanganan darurat terus berjalan, dan selanjutnya akan difokuskan pada pemulihan yang berkelanjutan agar masyarakat bisa kembali beraktivitas secara normal,” katanya.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]