WAHANANEWS.CO, Jakarta - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut dinamika atmosfer menjadi faktor utama peningkatan potensi hujan di wilayah Jakarta dan sekitarnya, sehingga Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dilakukan sebagai langkah pengendalian risiko bencana hidrometeorologi, seperti banjir.
Direktur Operasi Modifikasi Cuaca BMKG Budi Harsoyo, mengatakan hasil analisis meteorologi menunjukkan sejumlah fenomena atmosfer aktif memengaruhi cuaca Jabodetabek selama pertengahan Januari.
Baca Juga:
BNPB Perkuat OMC untuk Kurangi Dampak Banjir dan Longsor di Pati, Jepara, hingga Demak
“Terpantau adanya Madden-Julian Oscillation fase 2, gelombang Kelvin, gelombang frekuensi rendah, serta nilai Outgoing Longwave Radiation negatif yang mendukung pertumbuhan awan hujan,” kata dia, di Jakarta, Rabu (21/1/2026) melansir ANTARA.
Selain itu, lanjutnya, kelembapan udara di wilayah Jabodetabek tercatat berkisar antara 40 hingga 100 persen pada lapisan 925–500 hPa, dengan kondisi labilitas atmosfer yang memungkinkan terjadinya konveksi sedang.
Berdasarkan kondisi tersebut, BMKG bersama BPBD DKI Jakarta dan TNI Angkatan Udara melaksanakan OMC pada 16–22 Januari 2026 dengan pusat komando di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur.
Baca Juga:
BMKG Deteksi Konvergensi, Hujan Lebat Diprediksi Meluas di Indonesia
Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG Tri Handoko Seto menjelaskan penyemaian awan diprioritaskan pada sistem awan hujan yang masih berada di wilayah perairan sebelum memasuki daratan Jakarta dan sekitarnya.
“Tujuannya agar curah hujan dapat diturunkan lebih awal dan tidak terkonsentrasi di wilayah daratan yang padat penduduk,” ujar Handoko Seto.
Dalam operasi tersebut, satu pesawat Casa 212 disiagakan dengan membawa bahan semai berupa Natrium Klorida (NaCl) dan Kalsium Oksida (CaO), dengan setiap penerbangan didasarkan pada hasil pemantauan radar cuaca secara real time.