WAHANANEWS.CO, Kota Depok – Pers berkewajiban menyajikan pemberitaan yang akurat dan berempati kepada korban bencana sekaligus menangkal kabar bohong atau hoaks yang dapat saja berseliweran di tengah masyarakat atau media sosial internet (medsosnet).
Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kota Depok dengan Forum Indonesia Emas (FIE) selenggarakan Diskusi Nasional Profesionalisme Pers di Pemberitaan Bencana: Rawat Empati; Jaga Akurasi; Lawan Hoaks di Kantor PWI Kota Depok, Jalan Melati Raya-PWI, Pancoran Mas, Kota Depok, Jawa Barat, Selasa (6/2/2026).
Baca Juga:
Layanan Bedah Syaraf RSUI Program Karpet Merah untuk Neurologi
Narasumber dalam diskusi ini adalah Ketua Bidang Organisasi PWI Kota Depok, Ridwan Ewako; Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia (UI) dan Peneliti Komunikasi Bencana, Ressi Dwiana; Kepala Pusat Data dan Komunikasi Kebencanaan Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB) Abdul Muhari yang diwakili Kepala Pranata Hubungan Masyarakat BNPB Lia Agustina; Pemandu Diskusi, Ketua PWI Kota Depok Rusdy Nurdiansyah.
Ridwan Ewako mengatakan sebagai pemantik diskusi, ia mengajak pers untuk membuat berita perihal bencana dengan mengutamakan akurasi dan sumber yang benar dan faktual secara langsung.
“Jika menggunakan narasumber, pakailah narasumber yang kredibel atau punya kompetensi di bidang kebencanaan. pers harus teliti setiap informasi ditengah masyarakat atau medsosnet yang seakan-akan siapapun dapat menjadi seperti wartawan. Kira-kira gitu dalam tanda kutip,” ujar Ridwan.
Baca Juga:
Dokter Ari: Peran RSUI di Luar Ruang Praktek: Harus Juga Mendidik dan Mencerdaskan Bangsa
Bagi Ewako, berita yang tidak benar dari suatu bencana sangat mempengaruhi kondisi sosial, seperti dapat memicu pertentangan sosial.
“Jadi, peliputan kebencanaan diantaranya yang dituntut adalah bagaimana membangun harapan para korban itu bukan justru membuat kepanikan. Jadi tidak sekedar melaporkan berapa korban gitu ya. Itulah dalam istilah sebenarnya peliputan kebencanaan. Kalau kebencanaan itu berarti peliputan sebelum bencana, saat bencana, dan pasca bencana,” sebut Ridwan.
Wartawan yang punya pemahaman yang bagus dia bisa melaporkan sesuatu yang mengingatkan ada ancaman itu.