WAHANANEWS.CO, Jakarta - Pesan terakhir keluarga kepada dr. Eliza Princila Utami Pakaenoni atau dr. Icha ternyata hanya berisi permintaan sederhana agar dokter muda itu fokus memulihkan diri.
Keluarga mengungkap komunikasi terakhir tersebut terjadi sebelum dr. Icha ditemukan meninggal dunia di rumah orangtuanya di Perumahan RSS Baumata, Kabupaten Kupang, Jumat (26/6/2026).
Baca Juga:
Lima Peserta Meninggal, DPR Desak Kemenhan Hentikan Sementara Latsarmil Kopdes
Paman almarhumah, Fabianus Banase, mengatakan dirinya masih sempat bertukar pesan singkat dengan dr. Icha pada hari yang sama.
"Saya bilang ke dia, fokus recovery saja, jangan pikir yang lain," kata Fabianus kepada sejumlah wartawan, Sabtu (27/6/2026).
Fabianus saat itu juga meminta keponakannya bersiap untuk bertemu di Rumah Sakit Bhayangkara Kupang guna menjalani pemeriksaan lanjutan.
Baca Juga:
PLN Watch Dorong Sistem Digital Pengawasan Batubara, Kadar Kalori PLTU Tak Boleh Dimainkan
"Sore itu juga saya sampaikan supaya nanti kita bertemu di Bhayangkara untuk pemeriksaan lanjutan sekitar pukul 16.15," kata Fabianus.
Namun, rencana pemeriksaan lanjutan itu tidak pernah terlaksana karena keluarga lebih dulu menerima kabar duka menjelang petang.
"Tetapi sebelum itu terlaksana, sekitar menjelang pukul 18.00 kami mendapat kabar dia sudah meninggal dunia," kata Fabianus.
Kabar tersebut menjadi pukulan berat bagi keluarga karena mereka tidak pernah membayangkan dr. Icha akan meninggal dalam kondisi seperti itu.
Dr. Icha diketahui lahir pada 27 Juli 1998 dan baru berusia 27 tahun.
Ia merupakan anak pertama dari tiga bersaudara.
Ketiga bersaudara itu menekuni profesi dokter, bahkan salah satu adiknya baru saja menyelesaikan pendidikan kedokteran.
Fabianus juga menceritakan detik-detik ketika dr. Icha ditemukan di rumah keluarga.
Saat peristiwa itu terjadi, ayah dr. Icha sedang berada di kebun, sedangkan ibunya masih bekerja.
Di rumah tersebut hanya ada dr. Icha bersama dua adiknya.
Salah seorang adiknya yang juga berprofesi sebagai dokter kemudian naik ke lantai dua rumah.
Setibanya di lantai dua, sang adik menemukan dr. Icha sudah dalam kondisi tidak bernyawa.
"Berdasarkan perkiraan keluarga, dr Icha telah meninggal sekitar 20 menit sebelum ditemukan," ujar Fabianus.
Jenazah dr. Icha kemudian dievakuasi ke Rumah Sakit Bhayangkara Kupang untuk menjalani pemeriksaan luar.
Fabianus mengatakan hasil pemeriksaan awal tidak menemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh almarhumah.
"Atas kesepakatan keluarga, kami memutuskan tidak dilakukan otopsi," kata Fabianus.
Setelah pemeriksaan luar selesai, jenazah dr. Icha dibawa ke Rumah Duka Baumata untuk disemayamkan.
"Jenazah kemudian dibawa ke Rumah Duka Baumata untuk disemayamkan dan didoakan bersama keluarga, sahabat, serta para pelayat," kata Fabianus.
Sebelum meninggal dunia, dr. Icha diketahui sempat menjalani perawatan medis selama sekitar enam hari sejak 15 Juni 2026.
Setelah kondisinya membaik, dr. Icha diperbolehkan pulang pada 21 Juni 2026 dan melanjutkan pengobatan secara rawat jalan.
Fabianus menyebut keluarga hingga kini belum dapat memeriksa telepon genggam milik dr. Icha karena masih diamankan penyidik.
Selain dua unit telepon seluler, polisi juga menyita sepucuk surat yang ditemukan di lokasi kejadian sebagai bagian dari proses penyelidikan.
Keluarga meminta masyarakat menghormati privasi mereka dan tidak berspekulasi mengenai penyebab meninggalnya dr. Icha.
"Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan perhatian, doa, dan dukungan kepada almarhumah serta keluarga," ujar Fabianus.
Fabianus juga menyampaikan harapan keluarga agar para tenaga medis mendapat perlindungan ketika menjalankan tugas kemanusiaan.
"Kami juga berharap seluruh tenaga medis memperoleh perlindungan sehingga dapat menjalankan tugas kemanusiaan dengan aman," ujar Fabianus.
Selain mendorong proses hukum terhadap pihak yang diduga melakukan intimidasi terhadap dr. Icha, keluarga juga mendesak Ikatan Dokter Indonesia atau IDI mengambil langkah konkret.
"Kami minta IDI jangan hanya mengeluarkan rilis," tegas Fabianus.
Menurut Fabianus, kasus yang menimpa dr. Icha harus menjadi pelajaran serius bagi semua pihak.
"Harus ada tindakan," tegas Fabianus.
Fabianus bahkan mendorong adanya bentuk solidaritas nyata bagi tenaga kesehatan di Timor Tengah Utara atau TTU.
"Kasus ini harus menjadi pelajaran," tegas Fabianus.
Ia menilai persoalan ini tidak hanya menyangkut profesi dokter, tetapi juga menyangkut perlindungan terhadap kerja kemanusiaan.
"Kalau perlu lakukan boikot pelayanan kesehatan di TTU selama satu minggu sebagai bentuk solidaritas. Ini soal kemanusiaan," tegas Fabianus.
Sebelum meninggal dunia, dr. Icha menjadi sorotan publik setelah diduga mengalami intimidasi saat bertugas di Instalasi Gawat Darurat RS Leona Kefamenanu.
Dugaan intimidasi itu disebut terjadi ketika dr. Icha menangani seorang pasien anak korban gigitan ular.
Paman almarhumah yang lain, Victor Manbait, mengatakan dr. Icha telah memberikan pelayanan sesuai standar operasional prosedur rumah sakit dan arahan dokter spesialis anak.
Namun, situasi berubah ketika keluarga pasien meminta pemberian vaksin tertentu yang menurut pertimbangan medis belum direkomendasikan dan tidak tersedia di rumah sakit.
Victor menyebut dua pria yang mengaku sebagai anggota DPRD Kabupaten TTU kemudian mendatangi ruang perawatan dan menyampaikan protes dengan nada tinggi.
Salah seorang di antaranya disebut sempat menunjuk wajah dr. Icha ketika meminta penjelasan.
Peristiwa tersebut disebut membuat dr. Icha mengalami tekanan psikologis hingga menangis saat bertugas.
Kondisi dr. Icha kemudian memburuk dan membuatnya sempat menjalani perawatan medis.
"Dokter Icha mengaku masih mengalami ketakutan dan tekanan psikologis akibat bentakan yang diterimanya saat bertugas," kata Victor.
Dua anggota DPRD TTU yang disebut dalam peristiwa tersebut, Therensius Lazakar dan Norbertus Tubani, membantah telah melakukan intimidasi terhadap dr. Icha maupun tenaga kesehatan lainnya.
"Kami tidak pernah berniat mengintimidasi tenaga medis," kata Therensius.
Therensius menyebut informasi yang beredar terkait peristiwa tersebut tidak sesuai dengan fakta yang sebenarnya terjadi.
"Informasi yang beredar tidak sesuai dengan fakta yang sebenarnya terjadi," kata Therensius.
Ia mengakui nada bicaranya sempat meninggi saat berada di rumah sakit.
Namun, Therensius menyatakan nada bicara itu meninggi karena situasi panik melihat kondisi pasien, bukan karena ada niat mengintimidasi dokter.
"Kami akui dalam situasi itu nada bicara memang sempat meninggi karena panik melihat kondisi pasien," ujarnya.
Therensius kembali menegaskan dirinya tidak memiliki niat menekan dokter maupun tenaga kesehatan yang bertugas.
"Tetapi sama sekali tidak ada niat untuk mengintimidasi dokter ataupun tenaga kesehatan," ujarnya.
Sementara itu, Norbertus Tubani mengatakan dirinya bersama Therensius hanya meminta penjelasan mengenai kondisi pasien.
Norbertus menyebut mereka juga telah menyampaikan ucapan terima kasih dan permohonan maaf setelah memperoleh penjelasan dari dokter.
Permohonan maaf itu disebut disampaikan kepada Direktur RS Leona, dokter, dan tenaga kesehatan yang bertugas.
Kasus meninggalnya dr. Icha mendapat perhatian luas di Nusa Tenggara Timur karena menyangkut perlindungan tenaga kesehatan saat menjalankan tugas profesional.
Kasus ini juga menyoroti pentingnya komunikasi antara tenaga medis dan keluarga pasien dalam situasi darurat.
Hingga kini, penyebab pasti meninggalnya dr. Icha masih dalam penyelidikan kepolisian.
Aparat kepolisian juga masih mendalami barang bukti dan memeriksa sejumlah saksi.
Kepolisian belum menyatakan adanya hubungan antara kematian dr. Icha dengan dugaan intimidasi yang sebelumnya mencuat ke publik.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]