WAHANANEWS.CO, Jakarta - Ketegangan lama di perbatasan desa berubah menjadi kekerasan terbuka ketika warga Desa Longgar dan Desa Apara, Kecamatan Aru Selatan, Kabupaten Kepulauan Aru, Maluku, terlibat bentrokan yang menewaskan dua orang dan melukai enam lainnya.
Bentrokan antarwarga tersebut terjadi pada Jumat (2/1/2025) pagi dan kembali memicu kepanikan di wilayah perbatasan dua desa yang selama ini menyimpan konflik laten.
Baca Juga:
Pengusiran Brutal Nenek Lansia di Surabaya Berujung Laporan ke Polda Jatim
Dua korban meninggal dunia masing-masing adalah Antoni Sareman, warga Desa Longgar, dan Hery Marlisa (40).
Sementara itu, enam korban luka terdiri dari tiga warga Desa Longgar yakni Aleksander Djontar, Abdul Haji Rahantan, dan Laurensia Jerwy, serta tiga warga Desa Apara yaitu Remon Onaola, Muharam Difinubun, dan Karel Gwejor.
Informasi yang dihimpun menyebutkan, rangkaian peristiwa bermula pada Kamis (1/1/2025) sekitar pukul 15.36 WIT ketika dua warga Desa Longgar, Lorensius Jerwy dan Maksimus Kobaun, mendatangi rumah Tony Rainuni di Desa Apara untuk membeli minuman keras jenis sopi.
Baca Juga:
Rampas Sertifikat dan Motor, Ormas di Surabaya Usir Paksa Nenek Elina dari Rumahnya
Saat melintas di wilayah perbatasan Desa Longgar dan Desa Apara, Lorensius dan Maksimus diadang sekitar sepuluh pemuda dari Desa Apara yang saat itu hendak menuju Desa Longgar.
Dalam kejadian tersebut, Lorensius dan Maksimus diduga dipukul oleh kelompok pemuda itu hingga akhirnya melarikan diri kembali ke Desa Longgar untuk menyelamatkan diri.
Sekitar pukul 16.27 WIT, keduanya mengajak sekitar sepuluh pemuda dari Desa Longgar menuju perbatasan desa dengan tujuan mencari pelaku pemukulan.
Setibanya di perbatasan, bentrokan pun pecah dan kedua kelompok saling menyerang menggunakan parang, senapan angin, serta busur panah.
Upaya melerai bentrokan sempat dilakukan oleh seorang pendeta bernama Japy Tenu, namun usaha tersebut tidak berhasil menghentikan kekerasan.
Situasi semakin memburuk ketika warga dari kedua desa terus berdatangan ke lokasi bentrokan di perbatasan, tepatnya di lapangan bola SMA Negeri 8 sekitar pukul 17.00 WIT.
Anggota Bhabinkamtibmas dan Babinsa dari kedua desa sempat turun tangan untuk meredam bentrokan yang terus meluas.
Namun bentrokan kembali pecah pada Jumat (2/1/2025) sekitar pukul 09.00 WIT ketika warga Desa Apara dilaporkan kembali melakukan penyerangan terhadap warga Desa Longgar.
Akibat bentrokan lanjutan tersebut, dua orang dilaporkan meninggal dunia dan enam lainnya mengalami luka-luka.
Berdasarkan keterangan sementara, pemicu utama bentrokan diduga berkaitan dengan sengketa lahan di wilayah perbatasan yang diklaim sebagai hak milik masing-masing desa.
Kapolres Kepulauan Aru AKBP Albert Perwira Sihite membenarkan terjadinya bentrokan antarwarga tersebut.
Ia menyebutkan, sekitar 30 personel Brimob dan anggota Polres Kepulauan Aru telah dikerahkan ke lokasi bentrokan melalui jalur laut pada pukul 11.00 WIT.
Bupati Kepulauan Aru Timotius Kaidel juga turun langsung ke Desa Longgar dan Desa Apara untuk membicarakan penyelesaian konflik.
Timotius menyatakan pihaknya tengah mengumpulkan tokoh-tokoh berpengaruh dari kedua desa untuk meredam emosi warga dan mencegah konflik meluas.
"Saya meminta warga yang bertikai untuk menyerahkan semuanya kepada aparat penegak hukum dan menahan diri dan tidak terprovokasi dengan isu-isu yang memecah belah persaudaraan," ujarnya melalui keterangan tertulis, Jumat (2/1/2025).
Ia menambahkan bahwa kondisi keamanan di wilayah perbatasan desa berangsur membaik setelah aparat keamanan dikerahkan ke lokasi.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini].