"Pasca-bencana Aceh Tengah terisolasi sampai sekarang. Semua akses jalan darat putus total. Jadi setiap ada barang masuk, kita harus kumpulkan orang untuk angkut dengan cara dipikul," katanya.
Dia mengatakan bahwa membawa bantuan ke Aceh Tengah bisa dilakukan melalui jalur darat lewat simpang KKA yang menghubungkan Aceh Tengah ke Kota Lhokseumawe.
Baca Juga:
Basarnas Hentikan Operasi Pencarian Korban Banjir di Sejumlah Wilayah Aceh
Akan tetapi, katanya, tantangannya masih ada sejumlah lokasi jalan putus dan tertimbun longsor sehingga bantuan harus dipikul dan berjalan kaki melewati medan terjal yang ekstrem dan penuh tantangan.
"Anggota relawan kita harus jalan kaki sambil pikul barang. Memang banyak tantangan yang harus kita hadapi. Tapi ini sudah tugas kita sebagai relawan," ujarnya.
Ia menjelaskan jalur terberat dalam pengambilan barang yakni dari lokasi Kampung Kem, Kecamatan Permata, Kabupaten Bener Meriah.
Baca Juga:
PLN Sukses Normalkan Kelistrikan Banda Aceh, Takbir Berkumandang di Ruang Kontrol
Dari lokasi tersebut, relawan harus berjalan kaki selama lima jam sambil memikul barang. Terkadang, tim harus mendaki dan menuruni tebing curam serta melewati tumpukan material longsor di badan jalan.
Setiap pengambilan barang, tim harus mengerahkan 100-200 relawan untuk dapat mengangkut seluruh barang bantuan yang jumlahnya bisa mencapai dua ton.
"Untuk tim relawan kita mengajak rekan-rekan dari berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa, LSM, dan anggota Polri," kata dia.