"Saya tidak merasa kampus ini kekurangan sumber daya. Kami memiliki empat kadaver (jenazah untuk praktik) per angkatan, sementara kampus lain terkadang hanya punya satu. Setiap mahasiswa punya kesempatan bedah mandiri," ungkapnya kepada Al Jazeera.
Analisis politik dari Jammu, Zafar Choudhary, juga mempertanyakan logika NMC.
Baca Juga:
Skandal Asmara Oknum Polisi Berujung Temuan Mayat di Gorong-gorong
"Secara logika, infrastruktur seharusnya membaik setelah kelas dimulai. Kita tidak tahu mengapa kekurangan ini tiba-tiba muncul setelah ada protes identitas," katanya.
Bagi para mahasiswa seperti Saniya Jan (18), penutupan ini adalah mimpi buruk. Ia mengaku telah belajar sangat keras untuk lolos ujian NEET yang sangat kompetitif sebelum akhirnya diterima di SMVDMI. Kini, ia terpaksa pulang ke rumah dengan ketidakpastian masa depan.
"Semuanya terasa hancur sekarang. Semua ini terjadi hanya karena identitas kami. Mereka mengubah prestasi kami menjadi persoalan agama," keluh Saniya dengan nada kecewa.
Baca Juga:
Pesan Plt. Rektor UNIAS kepada 865 Mahasiswa yang Diwisuda, Nomor 3 Paling Berkesan
Menanggapi krisis ini, Kepala Menteri Jammu dan Kashmir, Omar Abdullah, mengecam tindakan kelompok yang memaksa penutupan kampus tersebut. Ia berjanji bahwa pemerintah daerah akan bertanggung jawab untuk memindahkan 50 mahasiswa tersebut ke kampus kedokteran lain di wilayah itu agar pendidikan mereka tidak terhenti.
"Orang biasanya berjuang untuk mendirikan perguruan tinggi kedokteran, namun di sini, perjuangan justru dilakukan untuk menutupnya. Anda telah bermain-main dengan masa depan mahasiswa," tegas Abdullah dalam pernyataannya.
[Redaktur: Alpredo Gultom]
Ikuti update
berita pilihan dan
breaking news WahanaNews.co lewat Grup Telegram "WahanaNews.co News Update" dengan install aplikasi Telegram di ponsel, klik
https://t.me/WahanaNews, lalu join.