WAHANANEWS.CO, Jakarta - Indonesia memilih arah pembangunan yang berbeda ketika banyak negara berlomba mengembangkan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
Dalam hal ini, Pemerintah menyiapkan sumber daya manusia unggul yang mampu memimpin, mengambil keputusan, menggerakkan masyarakat di lapangan, dan menciptakan lapangan kerja nyata, peran yang tidak bisa digantikan oleh teknologi.
Baca Juga:
BPJS Kesehatan Resmi Luncurkan Sistem AI untuk Deteksi Dini Fraud Klaim Medis
Inilah arah besar Program Beasiswa Patriot yang digagas Kementerian Transmigrasi dalam Rapat Koordinasi Perguruan Tinggi Mitra Transmigrasi Patriot 2026.
Program ini ditujukan untuk melahirkan transmigran patriot, yakni talenta terdidik yang ditugaskan langsung ke kawasan transmigrasi untuk membuka lapangan kerja dan membangun pusat-pusat ekonomi baru.
Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara menuturkan, di tengah kemajuan teknologi, kekuatan utama Indonesia tetap berada pada manusia yang memiliki kepemimpinan, empati, dan keberanian untuk hadir bersama masyarakat.
Baca Juga:
Akibat AI 10 Pekerjaan Ini Paling Tidak Aman, Penulis Salah Satunya?
"Teknologi penting, tapi masa depan Indonesia ditentukan oleh manusia yang mau turun ke lapangan, memimpin, dan menggerakkan masyarakat. Itulah yang kami siapkan melalui Beasiswa Patriot," ujar Menteri Iftitah dalam keterangan tertulis, dikutip Selasa (20/1/2026).
Melalui Beasiswa Patriot, peserta tidak hanya menempuh pendidikan, tetapi juga diberi mandat untuk mengelola potensi wilayah dan mengubahnya menjadi kegiatan ekonomi yang nyata dan berkelanjutan.
Di sisi lain, Iftitah bilang, kepemimpinan tidak bisa sepenuhnya diserahkan pada sistem atau teknologi. Di banyak wilayah, terutama kawasan transmigrasi, kehadiran pemimpin lapangan masih menjadi kunci utama pembangunan.