WAHANANEWS.CO, Jakarta - Dunia seperti menatap jurang baru ketika Dana Moneter Internasional (IMF) mengungkap utang nasional Amerika Serikat telah menembus angka mencengangkan USD39 triliun atau setara sekitar Rp666.215 triliun, menjadikannya bukan lagi sekadar persoalan domestik melainkan ancaman sistemik bagi stabilitas ekonomi global.
Fakta tersebut mempertegas bahwa tekanan fiskal kini tidak hanya menghantui Washington, tetapi juga menjalar ke seluruh dunia seiring meningkatnya ketidakpastian akibat konflik geopolitik dan ruang fiskal yang makin menyempit.
Baca Juga:
Negara Superpower Tapi Hobi Ngutang, Defisit AS Hampir US$1 Triliun
Direktur Urusan Fiskal IMF Rodrigo Valdes memperingatkan bahwa kondisi ini menjadi ujian berat bagi ekonomi global, terutama dengan proyeksi utang publik dunia yang diperkirakan mencapai 99 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada 2028.
"Ini tidak bisa menunggu selamanya," tegas Valdés, melansir Reuters, Senin (20/4/2026).
Dalam skenario terburuk, rasio utang global bahkan bisa melonjak hingga 121 persen hanya dalam waktu tiga tahun, dengan Amerika Serikat berada di posisi paling rentan akibat defisit anggaran yang diperkirakan bertahan di level 7,5 persen.
Baca Juga:
Trump Nyaman dengan Dolar Lemah, Mata Uang AS Sontak Terjun Bebas ke Level Terendah
Rasio utang Negeri Paman Sam diproyeksikan menembus 125 persen terhadap PDB tahun ini dan berpotensi meningkat hingga 142 persen pada 2031, menandai tekanan fiskal yang belum pernah terjadi dalam sejarah modern di masa damai.
“Tentu saja itu bukan hal yang kecil,” kata Valdés.
IMF menilai Amerika Serikat harus melakukan pengetatan fiskal sekitar empat poin persentase dari PDB, sebuah langkah besar yang berisiko memicu gejolak ekonomi dan politik.