WAHANANEWS.CO, Jakarta – Aliansi Lembaga Perlindungan Konsumen Listrik Nasional (ALPERKLINAS) mengapresiasi gerak cepat PT PLN (Persero) memulihkan sistem kelistrikan pascagempa bumi M7,7 di Laut Flores, Nusa Tenggara Timur.
Ketua Umum ALPERKLINAS KRT Tohom Purba mengatakan, “Kami menyampaikan belasungkawa yang mendalam kepada seluruh keluarga korban yang kehilangan orang-orang tercinta akibat bencana gempa di Nusa Tenggara Timur.”
Baca Juga:
PLN Kembangkan PLTA hingga Pumped Storage, ALPERKLINAS: Indonesia Punya Modal Besar Jadi Kekuatan Energi Hijau
Menurut Tohom, perhatian saat ini harus diarahkan kepada keselamatan masyarakat, penanganan korban, serta pemulihan berbagai layanan dasar di wilayah terdampak.
“Kami juga mendoakan masyarakat yang terluka dan terdampak agar diberikan kekuatan, serta seluruh proses penanganan bencana dapat berjalan dengan lancar,” ujar Tohom, Minggu (16/8/2026).
ALPERKLINAS menilai kecepatan pemulihan listrik mempunyai arti sangat penting karena hampir seluruh aktivitas tanggap darurat membutuhkan pasokan energi.
Baca Juga:
Prabowo Perintahkan PLN Tinggalkan PLTD, ALPERKLINAS: Momentum Besar Menuju Kedaulatan Energi
PLN UIW NTT hingga pukul 18.30 WITA mencatat seluruh 11 Gardu Induk yang terdampak telah berhasil dinormalkan dan kembali beroperasi.
Pada jaringan distribusi, sebanyak 2.723 dari total 3.478 gardu terdampak juga telah kembali beroperasi.
Pemulihan tersebut membuat pasokan listrik kembali dapat dinikmati sekitar 441 ribu pelanggan.
“Berhasil memulihkan 100 persen Gardu Induk dalam situasi bencana menunjukkan kesiapan sistem dan kemampuan personel PLN menghadapi kondisi darurat,” kata Tohom.
Ia menilai keberhasilan pada sisi transmisi dan Gardu Induk menjadi modal penting untuk mempercepat pemulihan jaringan distribusi.
Fasilitas publik yang berkaitan langsung dengan keselamatan masyarakat menurutnya memang harus memperoleh prioritas pasokan listrik.
PLN antara lain memprioritaskan fasilitas transportasi seperti bandar udara serta fasilitas kesehatan di daerah terdampak.
RSUD Bajawa menjadi salah satu fasilitas kesehatan yang telah mendapatkan pasokan listrik secara andal.
Keandalan tersebut sangat dibutuhkan untuk mendukung penanganan medis terhadap masyarakat dan korban gempa.
Direktur RSUD Bajawa Heronimus Due mengapresiasi kesiapsiagaan PLN dalam menjaga pasokan listrik rumah sakit.
“Terima kasih untuk PLN,” ujar Heronimus.
Ia menyampaikan bahwa kondisi kelistrikan rumah sakit tetap terkendali dan stabil sejak gempa terjadi.
Keandalan listrik tersebut sangat penting bagi pasien yang membutuhkan perawatan intensif dan tindakan operasi darurat.
“Kami sangat terbantu,” kata Heronimus setelah menjelaskan kebutuhan listrik untuk pasien gawat janin maupun penanganan korban patah tulang akibat gempa.
Menurut Tohom, pengalaman RSUD Bajawa memperlihatkan bahwa keandalan listrik pada situasi bencana mempunyai hubungan langsung dengan keselamatan manusia.
Dalam kondisi darurat, listrik dibutuhkan untuk mendukung peralatan medis, ruang perawatan, komunikasi, penerangan, serta berbagai kegiatan penyelamatan.
“Pada kondisi normal listrik adalah kebutuhan utama masyarakat, tetapi pada kondisi bencana listrik dapat menjadi bagian dari infrastruktur penyelamatan nyawa,” ujar Tohom.
Karena itu, ia mengapresiasi keputusan PLN yang mendahulukan pemulihan fasilitas vital sebelum bergerak menuju normalisasi menyeluruh.
Apresiasi terhadap petugas PLN juga datang dari sektor perhotelan dan akomodasi di kawasan Flores.
Manager Blue Ocean Hotel Lusiana Isabella Badik menyampaikan terima kasih kepada petugas PLN yang bekerja menjaga pasokan listrik.
“Terima kasih untuk semua petugas PLN atas kerja samanya,” ungkap Lusiana.
Ia juga mengingatkan seluruh petugas yang bekerja di lapangan untuk tetap menjaga keselamatan selama proses pemulihan.
General Manager PLN UIW Nusa Tenggara Timur F. Eko Sulistyono memastikan seluruh personel terus bekerja sampai sistem kelistrikan kembali pulih sepenuhnya.
“Seluruh tim PLN bekerja tanpa henti di lapangan,” tegas Eko.
Menurut Eko, pemulihan fasilitas vital ditempatkan sebagai prioritas agar penanganan bencana dan pelayanan dasar kepada masyarakat dapat berjalan normal.
PLN berkomitmen mengembalikan aliran listrik kepada seluruh masyarakat dengan cepat tanpa mengabaikan aspek keselamatan.
“Komitmen kami adalah menghadirkan kembali aliran listrik secepat dan seaman mungkin bagi seluruh masyarakat,” ujar Eko.
Tohom yang juga Ketua Umum PLN Watch ini mengatakan bahwa kerja petugas kelistrikan dalam situasi bencana merupakan bagian penting dari sistem tanggap darurat nasional.
Ia mengingatkan kondisi lapangan pascagempa memiliki risiko tinggi karena terdapat jaringan rusak, longsoran, patahan tiang, hingga kemungkinan gempa susulan.
“Petugas PLN memang dituntut bergerak cepat, tetapi keselamatan mereka juga harus dijaga karena merekalah yang menjadi ujung tombak pemulihan listrik masyarakat,” kata Tohom.
Menurutnya, kecepatan dan keselamatan harus berjalan bersama dalam setiap tahapan pemulihan jaringan.
ALPERKLINAS berharap pengalaman penanganan gempa NTT semakin memperkuat sistem mitigasi dan ketahanan infrastruktur kelistrikan nasional.
Pemetaan jaringan rawan bencana juga perlu terus diperkuat sebagai bagian dari kesiapan menghadapi kejadian serupa.
“Indonesia berada di kawasan rawan bencana, sehingga sistem kelistrikan masa depan harus dirancang semakin tangguh, adaptif, dan mampu dipulihkan dengan cepat ketika terjadi kondisi darurat,” ujar Tohom.
Menurutnya, investasi pada ketahanan jaringan sama pentingnya dengan pembangunan pembangkit maupun penambahan kapasitas listrik.
Ketahanan tersebut akan menentukan seberapa cepat pelayanan masyarakat dapat kembali berjalan setelah bencana.
Tim PLN saat ini masih melakukan penyisiran dan perbaikan terhadap jaringan distribusi yang terdampak longsoran maupun patahan tiang.
ALPERKLINAS berharap sisa gardu distribusi yang belum beroperasi dapat segera dipulihkan dengan tetap mengutamakan keselamatan personel dan masyarakat.
“Kami memberikan apresiasi kepada seluruh petugas PLN, tenaga kesehatan, TNI, Polri, BNPB, pemerintah daerah, relawan, dan masyarakat yang bekerja bersama di tengah situasi sulit ini,” kata Tohom.
Ia berharap pemulihan kelistrikan dapat membantu mempercepat pemulihan kehidupan masyarakat NTT secara keseluruhan.
“Listrik yang kembali menyala bukan hanya berarti rumah kembali terang, tetapi rumah sakit dapat bekerja, komunikasi berjalan, bantuan bergerak, dan masyarakat memperoleh harapan untuk bangkit setelah bencana,” pungkas Tohom.
[Redaktur: Sobar Bahtiar]