WAHANANEWS.CO, Jakarta - Keputusan Pakistan menjalin kerja sama dengan perusahaan kripto milik keluarga Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dinilai bukan semata soal pengembangan aset digital.
Sejumlah analis menilai langkah itu menjadi pintu bagi Islamabad untuk mempererat hubungan politik dengan pemerintahan Trump, di tengah keuntungan fantastis yang diraih sang presiden dari bisnis kriptonya.
Baca Juga:
Elite Politik Iran Terguncang, Surat Rahasia Mojtaba Khamenei Bocor
Laporan keuangan Trump yang dirilis pekan ini menunjukkan bisnis kripto keluarganya, World Liberty Financial (WLF), menghasilkan lebih dari US$500 juta atau sekitar Rp8,95 triliun (kurs Rp17.900/US$) hanya dari penjualan token sepanjang tahun lalu.
Melansir CNBC Indonesia, menurut ekonom sekaligus komentator asal Karachi, Khurram Husain, keuntungan terbesar salah satu negara Asia yang memiliki senjata nuklir tersebut justru bukan berasal dari proyek kripto.
"MoU itu hanyalah instrumen untuk mendapatkan akses. Tidak ada dasar kebijakan yang nyata. Akses adalah perhitungannya, dan itu membuahkan hasil yang luar biasa," ujarnya kepada Al Jazeera, dikutip Minggu (5/7/2026).
Baca Juga:
Tiga Kapal Perang Pakistan Sandar di Tanjung Priok, Ini Tujuannya
Pakistan menjadi salah satu negara pertama yang menggandeng WLF. Pada Januari lalu, Kementerian Keuangan Pakistan menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan SC Financial Technologies, afiliasi WLF, untuk menjajaki penggunaan stablecoin USD1 dalam transaksi pembayaran lintas negara. Penandatanganan itu disaksikan Perdana Menteri Shehbaz Sharif dan Kepala Angkatan Darat Pakistan Asim Munir.
Namun, hampir enam bulan setelah penandatanganan, belum ada implementasi nyata dari kerja sama tersebut. Pejabat Pakistan mengonfirmasi belum ada proyek percontohan, lisensi operasional, maupun transaksi yang menggunakan stablecoin USD1. Meski demikian, sejumlah analis menilai nilai diplomatik dari kesepakatan tersebut jauh lebih besar dibanding manfaat ekonominya.
Profesional perbankan dan keuangan asal Kanada, Ibrahim Khalil, mempertanyakan urgensi penggunaan stablecoin baru tersebut.