WahanaNews.co, Karachi - Wakil Menteri Perdagangan Indonesia Dyah Roro Esti Widya Putri bertemu dengan sejumlah importir produk Indonesia di Pakistan untuk membahas jalur pengiriman, khususnya minyak sawit, melalui Pelabuhan Qasim di Karachi, Jumat (9/1).
Pelabuhan Qasim merupakan pelabuhan utama Pakistan dan berfungsi sebagai simpul impor minyak nabati, termasuk minyak sawit, serta menjadi titik strategis dalam rantai pasok komoditas tersebut ke pasar domestik Pakistan.
Baca Juga:
Wamendag Roro: Indonesia Buka Peluang Kerja Sama yang Lebih Luas dengan Pakistan
Dalam pertemuan itu, Dyah Roro menyampaikan apresiasinya terhadap peran strategis Pelabuhan Qasim dalam mendukung kelancaran pasokan minyak sawit Indonesia ke Pakistan. Ia juga menyoroti potensi pengembangan kerja sama perdagangan di luar minyak sawit antara kedua negara.
“Indonesia memandang Pakistan sebagai mitra dagang yang sangat penting dalam perdagangan minyak sawit. Kerja sama ini diharapkan dapat terus berlanjut dan berkembang ke depan,” kata Dyah Roro.
Ia menambahkan Indonesia terbuka terhadap peluang perdagangan produk lainnya yang dinilai dapat memberikan manfaat bagi kedua negara.
Baca Juga:
Indonesia Dorong Perluasan Kerja Sama CEPA dengan Pakistan
CEO Westbury Group sekaligus CEO Mapak Edible Oils, Abdul Rasheed Janmohammed, mengatakan Pelabuhan Qasim memiliki peran kunci dalam menjaga kelancaran pasokan minyak sawit Indonesia ke Pakistan. Menurutnya, peningkatan kerja sama perdagangan dapat dilakukan melalui penguatan rantai pasok, termasuk efisiensi logistik, penyederhanaan prosedur perizinan, serta pengembangan fasilitas penyimpanan di pelabuhan.
Langkah-langkah tersebut, kata Abdul, akan membuat pasokan minyak sawit Indonesia lebih cepat, stabil, dan kompetitif dibandingkan dengan pemasok dari negara lain.
Sebagai salah satu importir minyak sawit Indonesia terbesar di Pakistan, Westbury Group juga menjalankan sejumlah program tanggung jawab sosial perusahaan, termasuk pembangunan rumah sakit dan fasilitas penitipan anak di kawasan Pelabuhan Qasim untuk mendukung layanan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat serta pekerja di sekitar pelabuhan.
Menanggapi hal itu, Dyah Roro menyampaikan peluang perluasan kerja sama perdagangan jasa, khususnya dalam penyediaan tenaga kesehatan seperti dokter umum, dokter gigi, dan perawat. Ia menilai inisiatif tersebut dapat memperkuat hubungan bilateral yang tidak hanya terbatas pada perdagangan barang, tetapi juga jasa.
Pertemuan tersebut turut dihadiri Duta Besar Indonesia untuk Pakistan Chandra W. Sukotjo, Direktur Perundingan Antar-Kawasan dan Organisasi Internasional Kementerian Perdagangan Natan Kambuno, serta Konsul Jenderal RI di Karachi Mudzakir.
[Redaktur: Alpredo]