WAHANANEWS.CO, Jakarta - Pelemahan nilai tukar rupiah mulai menimbulkan kekhawatiran baru di sektor kesehatan karena harga obat-obatan berpotensi ikut naik seiring tingginya ketergantungan industri farmasi nasional terhadap bahan baku impor.
Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI Taruna Ikrar mengakui kenaikan harga obat sulit dihindari apabila tekanan terhadap nilai tukar rupiah terus berlanjut.
Baca Juga:
Pemkab Karawang Matangkan Prioritas Pembangunan 2026, Fokus Pendidikan, Kesehatan dan Infrastruktur
Menurutnya, industri farmasi harus melakukan berbagai penyesuaian agar tetap mampu mempertahankan kegiatan produksi dan operasional di tengah meningkatnya biaya bahan baku.
"Tentu industri farmasi kita supaya bisa survive akan menaikkan (harga). Tapi kita dari pemerintah berharap kenaikannya jangan terlalu tinggi," ujar Taruna Ikrar saat ditemui awak media di Kantor BPOM, Jakarta Pusat, Selasa (02/06/2026).
Taruna menjelaskan salah satu penyebab utama potensi kenaikan harga obat adalah masih besarnya ketergantungan industri farmasi nasional terhadap bahan baku yang didatangkan dari luar negeri.
Baca Juga:
Rusia Hujani Ukraina dengan 656 Drone dan 73 Rudal, Sedikitnya 9 Orang Tewas
Kondisi tersebut membuat perubahan kurs mata uang asing secara langsung memengaruhi biaya produksi obat di dalam negeri.
Untuk mengantisipasi lonjakan harga yang terlalu tinggi, BPOM bersama para pemangku kepentingan menyiapkan sejumlah langkah strategis.
Upaya yang dilakukan antara lain melalui penyesuaian kemasan produk hingga mencari alternatif pemasok bahan baku dari negara lain yang menawarkan harga lebih kompetitif.