WAHANANEWS.CO, Jakarta - Kepercayaan investor asing terhadap Indonesia kembali diuji, dan Danantara mengklaim pasar global memberi jawaban kuat lewat derasnya permintaan obligasi senilai US$ 1,5 miliar.
Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau BPI Danantara menyatakan minat investor asing terhadap Indonesia masih tetap solid.
Baca Juga:
Tiga Proyek Sampah Jadi Listrik Masuk PSN, Bekasi hingga Denpasar Jadi Tahap Awal
Hal itu terlihat dari respons positif pasar global terhadap penerbitan obligasi Danantara senilai US$ 1,5 miliar atau sekitar Rp 26,55 triliun dengan asumsi kurs Rp 17.704 per dolar AS.
Chief Executive Officer BPI Danantara, Rosan Roeslani, mengatakan obligasi global tersebut mencatat permintaan pesanan atau order book yang kuat dengan imbal hasil atau yield yang relatif rendah.
Obligasi itu diterbitkan dalam dua tenor, yakni lima tahun dengan yield 5,35 persen dan 10 tahun dengan yield 5,95 persen.
Baca Juga:
Purbaya: Investasi Bernilai Tambah Tinggi Jadi Kunci Capai Target Ekonomi 2027
Keberhasilan penerbitan obligasi tersebut juga mendapat sorotan media asing Bloomberg melalui laporan berjudul Danantara Sells Dollar Bond, a Win for Prabowo After Rout.
Obligasi global Danantara mencatat oversubscribe atau kelebihan permintaan hingga 3,0 kali dengan puncak pemesanan mencapai US$ 4,6 miliar atau sekitar Rp 81,40 triliun.
“Bond kita ini memang sangat sukses, dilihat dari segi permintaannya, dilihat dari segi yield-nya yang relatif rendah,” ungkap Rosan dalam keterangan pers di Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Senin (15/6/2026).
Rosan menilai yield yang kompetitif menjadi sinyal kuat bahwa investor masih memiliki kepercayaan terhadap instrumen Danantara dan prospek ekonomi Indonesia.
“Karena kalau mereka tidak percaya, pastinya mereka minta yield premium yang sangat tinggi, ini tidak mereka minta,” ungkap Rosan.
Ia menyebut imbal hasil obligasi Danantara berada pada level yang sangat kompetitif dibandingkan ekspektasi pasar.
“Bahkan kita lihat yield-nya sangat-sangat kompetitif sekali,” ungkap Rosan.
Rosan juga membuka peluang bagi Danantara untuk kembali menerbitkan obligasi global pada masa mendatang.
Menurutnya, penerbitan berikutnya bahkan dapat dilakukan dengan tenor yang lebih panjang hingga 30 tahun apabila melihat besarnya minat investor.
“Rencananya kita kalau menerbitkan obligasi, kita akan lihat bisa sampai yang 30 tahun, karena appetite-nya itu sangat besar juga,” jelas Rosan.
Ia mengatakan investor asing melihat pertumbuhan ekonomi Indonesia masih relatif stabil meskipun dinamika global terus berubah.
“Karena mereka melihat bahwa, ya, Indonesia ini growth-nya ini relatif stabil,” jelas Rosan.
Rosan tidak menampik bahwa kondisi ekonomi tetap memiliki siklus naik turun, terutama di tengah tekanan geopolitik dan geoekonomi.
“Iya memang ada naik turunnya, itu memang dalam cycle selalu ada, apalagi di tengah tension geopolitik, geoekonomi, itu adalah hal-hal yang memang selalu ada dalam cycle ekonomi kita,” jelas Rosan.
Ia menegaskan keberhasilan penerbitan obligasi global tersebut membantah keraguan sejumlah pihak yang sebelumnya menilai instrumen Danantara tidak akan diminati pasar.
Rosan juga menyebut yield obligasi Danantara lebih rendah dibandingkan perkiraan awal pelaku pasar.
Dalam proses book building, yield obligasi tersebut sebelumnya diperkirakan berada pada rentang 6 persen hingga 7 persen.
Namun, realisasi yield yang lebih rendah dinilai menunjukkan kuatnya keyakinan investor terhadap Danantara dan Indonesia.
“Ini adalah hasil yang sangat-sangat baik, dan ini membuktikan juga bahwa kepercayaan investor terhadap Indonesia, ini tinggi, dan ini terbukti, dan ini real ya, dan ini real,” pungkas Rosan.
Ia menjelaskan penerbitan obligasi tersebut sudah memasuki tahap penandatanganan dan dana dijadwalkan masuk ke rekening Danantara pada pekan yang sama.
“Kenapa? Karena tanggal 11 Juni kemarin kita sudah signing, dan tanggal 18 Juni dana-nya akan masuk ke dalam rekening Danantara,” pungkas Rosan.
Dengan capaian tersebut, Danantara menilai penerbitan obligasi global ini menjadi bukti bahwa instrumen investasi Indonesia masih mendapat tempat kuat di tengah pasar internasional.
[Redaktur: Sandy]