WAHANANEWS.CO, Jakarta - Rupiah kembali terpukul dan mencatat rekor terlemah sepanjang sejarah perdagangan modern setelah menembus level psikologis Rp17.900 per dolar AS pada perdagangan Rabu (3/6/2026).
Berdasarkan pantauan pasar pada Rabu (3/6/2026) pagi sekitar pukul 09.40 WIB, nilai tukar rupiah berada di posisi Rp17.910 per dolar AS.
Baca Juga:
Sahroni Dukung Kejagung Usut Dugaan Korupsi MBG di BGN hingga Tuntas
Posisi tersebut menunjukkan pelemahan sebesar 71 poin atau sekitar 0,40 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.
Pelemahan itu sekaligus menjadi kali pertama mata uang Garuda menembus level Rp17.900 per dolar AS dalam sejarah perdagangan modern.
Tekanan terhadap rupiah terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran pelaku pasar terhadap eskalasi konflik di Timur Tengah yang kembali memicu lonjakan harga minyak dunia.
Baca Juga:
Kantor Badan Gizi Nasional Digeledah Kejagung Sehari Setelah Pergantian Pimpinan
Kondisi tersebut mendorong investor global mengalihkan dana ke aset-aset yang dianggap lebih aman, termasuk dolar Amerika Serikat.
Sebelumnya, analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong telah memperingatkan bahwa rupiah masih berpotensi melanjutkan pelemahannya seiring meningkatnya risiko geopolitik global.
"Rupiah berpotensi melemah terhadap dolar AS oleh eskalasi baru di Timur Tengah yang memicu kekhawatiran terhadap harapan perdamaian dan melonjaknya harga minyak dunia," ujar Lukman.
Menurutnya, meningkatnya ketegangan geopolitik berpotensi memperbesar tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.
Diperkirakan Lukman, pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini masih berada dalam rentang Rp17.800 hingga Rp17.900 per dolar AS.
Sebelum menyentuh level Rp17.910 per dolar AS, rupiah sebenarnya dibuka di posisi Rp17.878 per dolar AS pada perdagangan pagi.
Posisi pembukaan tersebut telah menunjukkan pelemahan sebesar 39 poin atau sekitar 0,22 persen dibandingkan posisi penutupan perdagangan sebelumnya.
Pergerakan rupiah kini menjadi perhatian pasar karena berlangsung di tengah kombinasi tekanan eksternal berupa konflik geopolitik, penguatan dolar AS, serta kenaikan harga energi global yang berpotensi memengaruhi stabilitas ekonomi berbagai negara.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]