Rahma menambahkan faktor eksternal juga berperan, termasuk perlambatan ekonomi global dan melemahnya permintaan dari mitra dagang utama seperti China yang berdampak pada kinerja ekspor komoditas Indonesia.
“Pemangkasan ini adalah ‘peringatan’ bagi pemerintah bahwa mesin pertumbuhan konvensional mulai kehabisan bensin, dan diperlukan stimulus baru atau penguatan daya beli masyarakat bawah dan menengah untuk kembali ke jalur 5 persen.
Baca Juga:
Bakorwil Surakarta Jadi Pusat Aglomerasi Ekonomi Solo Raya, MARTABAT Prabowo-Gibran: Langkah Strategis dan Visioner
“Jadi, jika Anda merasa dompet lebih tipis atau bisnis lebih sepi meski berita-berita bilang ekonomi 'aman', proyeksi Bank Dunia ini memvalidasi perasaan tersebut,” tambahnya.
Meski demikian, Rahma menilai target pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen masih dapat diupayakan dengan mengoptimalkan berbagai sektor secara bersamaan.
Sektor pertama, ia menekankan pentingnya penguatan sektor industri pengolahan sebagai kontributor utama PDB melalui hilirisasi, termasuk pengolahan komoditas seperti nikel, tembaga, dan bauksit menjadi produk bernilai tambah tinggi serta pengembangan rantai pasok industri baterai dan kendaraan.
Baca Juga:
Bupati Tapanuli Utara Tekankan Akselerasi Pertumbuhan Ekonomi dan Penguatan SDM
"Sektor ini adalah kontributor PDB terbesar (sekitar 19-20 persen). Agar target 5 persen tercapai, manufaktur harus tumbuh di atas pertumbuhan ekonomi nasional," tuturnya.
Sektor kedua, sektor pertanian dinilai memiliki potensi sebagai motor pertumbuhan baru, terutama dengan dukungan peningkatan produktivitas, penyederhanaan distribusi pupuk, serta penguatan program ketahanan pangan guna menjaga stabilitas harga.
"Pertanian saat ini dipandang sebagai mesin pertumbuhan baru. Pada 2025, sektor ini mencatatkan pertumbuhan di atas 5 persen, membalikkan tren sebelumnya yang di bawah 2 persen," ujar dia.