Dinamika tersebut menurut para ekonom menjadi inti dari ketimpangan persisten di Thailand yang berkontribusi pada salah satu tingkat konsentrasi pendapatan tertinggi di dunia. Berdasarkan data Bank Dunia, 10% orang terkaya di Thailand menguasai sekitar setengah dari total pendapatan, yang merupakan pangsa tertinggi di antara negara-negara dengan data yang tersedia.
Pendekatan pemerintah ini mencerminkan pola yang sudah sering dilakukan sebelumnya, di mana saat pandemi Covid-19, konglomerat besar membantu mempercepat distribusi vaksin dengan menyediakan tempat, logistik, dan dukungan pengadaan. Hal ini menunjukkan kapasitas mereka untuk bertindak sebagai mitra kebijakan semu dalam masa krisis.
Baca Juga:
Forbes Update 10 Orang Terkaya Indonesia di Januari 2025
Di ribuan toko grosir, supermarket, dan toko kelontong yang berpartisipasi dalam program "Thais Helping Thais", pengecer telah meluncurkan promosi di dalam toko dengan papan nama berwarna-warni yang menyoroti barang-barang diskon. Promosi tersebut mencakup label mencolok "diskon 50%" serta pajangan alternatif barang dengan biaya lebih rendah.
Walaupun inflasi utama Thailand tetap berada di wilayah negatif selama 11 bulan terakhir, kenaikan biaya energi diperkirakan akan mendorong harga konsumen kembali ke kisaran target Bank of Thailand sebesar 1% hingga 3% paling cepat pada tahun 2026.
Secara terpisah pada Senin, grup bisnis terbesar di Thailand menaikkan prospek inflasi menjadi 2% hingga 3% dari sebelumnya 0,2% hingga 0,7%. Kelompok tersebut juga memangkas perkiraan pertumbuhan ekonomi menjadi 1,2% hingga 1,6% untuk tahun 2026 dari proyeksi awal sebesar 1,6% hingga 2%.
Baca Juga:
Happy Hapsoro, Sosok Konglomerat di Balik Gurita Bisnis RAJA dan RATU
[Redaktur: Alpredo Gultom]
Ikuti update
berita pilihan dan
breaking news WahanaNews.co lewat Grup Telegram "WahanaNews.co News Update" dengan install aplikasi Telegram di ponsel, klik
https://t.me/WahanaNews, lalu join.