Tohom juga melihat pengembangan KEK Galang Batang sebagai contoh penting bagaimana sumber daya alam dapat didorong masuk ke rantai industri bernilai tambah lebih tinggi.
KEK tersebut mengintegrasikan produksi 12 juta ton bauksit, 4 juta ton smelter grade alumina, hingga 2 juta ton aluminium ingot per tahun.
Baca Juga:
Prabowo Siapkan Transformasi Industri Perkapalan, MARTABAT Prabowo-Gibran: Kemandirian Maritim Tak Bisa Ditunda
“Indonesia tidak boleh selamanya dikenal karena apa yang keluar dari tanahnya, tetapi harus semakin dikenal karena apa yang mampu dihasilkan industrinya,” kata Tohom.
Di sektor digital, pemerintah juga mengembangkan pusat data, kecerdasan buatan, dan konektivitas internasional melalui kabel bawah laut Nongsa-Changi Cable sepanjang 50 kilometer berkapasitas 1,6 petabit per detik.
Menurut Tohom, pembangunan infrastruktur digital di KEK dapat menjadi fondasi penting untuk membawa Indonesia masuk lebih jauh ke dalam persaingan ekonomi berbasis teknologi.
Baca Juga:
Bayar Listrik Pakai Sampah Makin Berkembang, MARTABAT Prabowo-Gibran: Inovasi Lingkungan Harus Jadi Gerakan Nasional
Namun, ia mengingatkan pembangunan pusat data dan ekosistem kecerdasan buatan harus diikuti kesiapan pasokan listrik yang andal, kompetitif, dan semakin bersumber dari energi bersih.
Tohom yang juga Ketua Umum Aglomerasi Watch ini mengatakan bahwa KEK seharusnya tidak berkembang sebagai kawasan ekonomi yang terpisah dari wilayah di sekitarnya.
“KEK harus menjadi magnet pertumbuhan yang menarik naik ekonomi daerah sekitarnya, sehingga manfaat investasi bergerak keluar kawasan melalui tenaga kerja, UMKM, perumahan, transportasi, logistik, dan berbagai aktivitas ekonomi baru,” ujarnya.