Menurutnya, pendekatan aglomerasi penting agar pembangunan KEK dapat menghasilkan efek pengganda yang lebih luas dan tidak berhenti pada angka investasi di dalam kawasan.
Berdasarkan data sementara hingga 28 Juli 2026, realisasi investasi kumulatif seluruh KEK telah mencapai Rp368 triliun dari 444 badan usaha dan pelaku usaha dengan penyerapan tenaga kerja sebanyak 283.234 orang.
Baca Juga:
Prabowo Siapkan Transformasi Industri Perkapalan, MARTABAT Prabowo-Gibran: Kemandirian Maritim Tak Bisa Ditunda
Tohom menilai angka tersebut memperlihatkan besarnya potensi KEK untuk menjadi salah satu instrumen utama pemerataan investasi dan industrialisasi nasional.
Ia juga mengapresiasi arah pemerintah yang mulai mengukur keberhasilan KEK berdasarkan hasil nyata seperti lapangan kerja, produktivitas, ekspor, pertumbuhan UMKM, dan penyerapan tenaga kerja terampil.
“Ukuran keberhasilan investasi pada akhirnya bukan berapa banyak uang yang masuk, tetapi berapa banyak kehidupan masyarakat yang berubah menjadi lebih baik karena investasi itu,” katanya.
Baca Juga:
Bayar Listrik Pakai Sampah Makin Berkembang, MARTABAT Prabowo-Gibran: Inovasi Lingkungan Harus Jadi Gerakan Nasional
Tohom berpandangan sistem insentif berbasis hasil akan mendorong pengelola KEK dan investor lebih serius mengejar produktivitas serta dampak ekonomi yang dapat diukur.
Ia menilai kebijakan tersebut juga dapat menjadi instrumen untuk memastikan fasilitas negara diberikan kepada investasi yang benar-benar menghasilkan manfaat strategis bagi perekonomian nasional.
MARTABAT Prabowo-Gibran berharap pemerintah terus memperkuat kepastian regulasi, infrastruktur, ketersediaan energi, kualitas tenaga kerja, dan konektivitas logistik di seluruh KEK.