WahanaNews.co, Jakarta - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus memperkuat pembangunan sumber daya manusia (SDM) industri sebagai langkah strategis untuk mendukung transformasi sektor manufaktur nasional sekaligus menciptakan lapangan kerja yang berkualitas.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, pengembangan SDM industri menjadi investasi jangka panjang yang penting dalam meningkatkan daya saing industri manufaktur Indonesia di tengah persaingan global yang semakin ketat.
Baca Juga:
Elaeis Media Group Bakal Gelar Workshop Kuliner Sawit di Jambi, Inovasi Bolu Sawit Iin Arlina Siap Menginspirasi UMKM
“Seluruh lembaga pendidikan vokasi industri Kemenperin disiapkan dengan spesialisasi dan kompetensi yang spesifik agar menghasilkan lulusan yang memiliki pengetahuan, keterampilan, dan karakter industri yang kuat sehingga mampu berdaya saing secara global,” ujar Agus dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (10/6).
Sepanjang 2025, Kemenperin mencatat sebanyak 5.472 lulusan berhasil dihasilkan dari unit pendidikan vokasi industrinya. Jumlah tersebut berasal dari 11 politeknik, dua akademi komunitas, dan sembilan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia.
Para lulusan tersebut dibekali kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan industri manufaktur dan sebagian besar telah terserap ke dunia kerja dalam waktu maksimal enam bulan setelah menyelesaikan pendidikan.
Baca Juga:
Kemenperin dan Pemkab Pinrang Perpanjang Kerja Sama, Perkuat Daya Saing Industri Daerah
Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri, Doddy Rahadi, menilai tingginya tingkat penyerapan lulusan menjadi bukti efektivitas sistem pendidikan vokasi industri yang diterapkan Kemenperin.
“Pendidikan vokasi industri yang diselenggarakan Kemenperin menerapkan sistem link and match yang sesuai dengan kebutuhan industri, sehingga menghasilkan lulusan kompeten yang siap kerja dengan keterampilan yang dibutuhkan industri saat ini. Hal tersebut dibuktikan dengan banyaknya perusahaan industri yang menyerap lulusan dari unit pendidikan vokasi Kemenperin,” kata Doddy.
Menurut dia, pendidikan vokasi industri tidak hanya berfokus pada penguasaan teori, tetapi juga menekankan praktik langsung di lingkungan industri melalui berbagai program pembelajaran berbasis kompetensi. Pendekatan tersebut dinilai mampu meningkatkan kesiapan lulusan saat memasuki dunia kerja.
Keberhasilan program vokasi Kemenperin juga tercermin dari kiprah para alumninya yang bekerja di berbagai perusahaan nasional maupun internasional.
Salah satunya adalah Jeihza Malik, lulusan Politeknik Industri Furnitur dan Pengolahan Kayu yang kini bekerja di Mono Group pada bagian Sanding Department.
“Mendapatkan pekerjaan sebelum wisuda di kawasan industri Eropa merupakan pengalaman yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Hal tersebut tidak lepas dari pembelajaran teori, praktik, disiplin, serta pengalaman berinteraksi dengan praktisi industri selama menempuh pendidikan di Polifurneka,” ujar Jeihza.
Kisah sukses lainnya datang dari Pipit Fitriyani, lulusan Politeknik STTT Bandung yang saat ini menjabat sebagai General Manager di PT TESTEX Testing and Certification.
Pipit menilai pendidikan vokasi industri Kemenperin memberikan bekal yang relevan dan aplikatif sesuai kebutuhan dunia kerja.
“Saya menyadari setelah bekerja bahwa ilmu yang diperoleh sangat aplikatif. Di sekolah vokasi, kami tidak hanya mendapatkan teori, tetapi juga praktik secara langsung sehingga memahami penerapannya dan benar-benar siap memasuki dunia kerja,” tutur Pipit.
Melalui penguatan pendidikan vokasi yang terintegrasi dengan kebutuhan industri, Kemenperin berharap dapat terus mencetak tenaga kerja kompeten yang mampu mendukung pertumbuhan sektor manufaktur nasional sekaligus meningkatkan daya saing Indonesia di pasar global.
[Redaktur: Jupriadi]