WAHANANEWS.CO, Jakarta - Organisasi Relawan Nasional MARTABAT Prabowo-Gibran menyambut positif rencana Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara yang akan mengonsolidasikan 15 perusahaan asuransi BUMN menjadi tiga entitas utama yang masing-masing fokus pada asuransi jiwa, asuransi umum, dan asuransi kredit.
Ketua Umum MARTABAT Prabowo-Gibran KRT Tohom Purba menilai langkah tersebut merupakan bagian dari transformasi besar yang dibutuhkan untuk menciptakan industri asuransi nasional yang lebih sehat, efisien, dan memiliki daya saing tinggi di tingkat regional maupun global.
Baca Juga:
Tersinggung Saat Beli Rokok, Pemuda di Pematangsiantar Tega Dorong Penjaga Warung Hingga Tewas
“Indonesia membutuhkan perusahaan-perusahaan keuangan yang kuat, memiliki modal besar, tata kelola yang baik, dan mampu memberikan perlindungan optimal kepada masyarakat. Konsolidasi ini merupakan arah yang tepat untuk mencapai tujuan tersebut,” kata Tohom, Kamis (4/6/2026).
Menurutnya, selama ini banyaknya entitas usaha dalam satu kelompok BUMN sering kali menimbulkan duplikasi fungsi, biaya operasional yang tinggi, serta kurang optimalnya pemanfaatan sumber daya yang tersedia.
Tohom menilai kebijakan Danantara dapat menjadi momentum untuk membangun perusahaan asuransi nasional yang lebih fokus pada pengembangan produk, penguatan teknologi digital, peningkatan kualitas layanan, dan penguatan kapasitas permodalan.
Baca Juga:
Viral Ibu Hamil Ditendang Preman Bersenjata di Medan, Pengakuan Korban Bikin Merinding
“Jika proses integrasi dilakukan secara profesional dan transparan, maka hasil akhirnya bukan hanya perusahaan yang lebih besar, tetapi juga perusahaan yang lebih kuat dalam mengelola risiko dan memberikan rasa aman kepada jutaan pemegang polis,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa penggabungan perusahaan harus tetap mengedepankan perlindungan terhadap hak-hak nasabah sehingga seluruh proses transisi berjalan lancar tanpa mengurangi kualitas pelayanan yang telah diterima masyarakat.
Menurut Tohom, keberadaan satu perusahaan asuransi jiwa, satu perusahaan asuransi umum, dan satu perusahaan asuransi kredit akan memudahkan fokus bisnis sekaligus memperjelas arah pengembangan masing-masing segmen industri.
“Model seperti ini banyak diterapkan oleh negara-negara maju karena memungkinkan perusahaan memiliki spesialisasi yang lebih kuat, efisiensi operasional yang lebih baik, dan kemampuan ekspansi yang lebih besar,” katanya.
Tohom yang juga Ketua Umum Aglomerasi Watch ini mengatakan restrukturisasi yang sedang dijalankan Danantara menunjukkan keseriusan pemerintah dalam membangun ekosistem ekonomi nasional yang lebih modern dan terintegrasi.
“Di era persaingan global saat ini, ukuran perusahaan bukan lagi sekadar jumlah entitas yang dimiliki, tetapi seberapa efektif perusahaan tersebut menciptakan nilai tambah, meningkatkan produktivitas, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” ujarnya.
Ia melihat konsolidasi sektor asuransi BUMN dapat menjadi contoh bagi sektor-sektor lain dalam menciptakan organisasi yang lebih ramping, adaptif, dan mampu menjawab tantangan ekonomi masa depan.
MARTABAT Prabowo-Gibran berharap transformasi yang dijalankan Danantara mampu menghasilkan perusahaan asuransi nasional yang tidak hanya menjadi pemimpin di pasar domestik, tetapi juga berkembang menjadi pemain penting di kawasan Asia Tenggara.
“Langkah ini bukan hanya soal restrukturisasi perusahaan, tetapi bagian dari upaya membangun fondasi ekonomi Indonesia yang lebih kuat, efisien, dan berkelanjutan untuk mendukung visi Indonesia Emas 2045,” tutup Tohom.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]