Kimia Farma juga memperbaiki kinerja dari kerugian Rp135,61 miliar menjadi laba Rp54,07 miliar.
Tohom mengatakan pembalikan tersebut harus dijadikan momentum untuk membenahi fundamental perusahaan agar perbaikan tidak hanya muncul dalam satu periode laporan keuangan.
Baca Juga:
Evyap Resmi Beroperasi di KEK Sei Mangkei, MARTABAT Prabowo-Gibran: Hilirisasi Indonesia Semakin Kompetitif
“Perusahaan yang berhasil berbalik dari rugi menjadi laba harus dijaga momentumnya melalui efisiensi, inovasi, disiplin investasi, penguatan bisnis inti, dan tata kelola yang bersih agar kebangkitan itu menjadi permanen,” ujarnya.
Tohom yang juga Ketua Umum Aglomerasi Watch ini mengatakan bahwa transformasi BUMN juga perlu dihubungkan dengan pembangunan ekonomi daerah agar manfaat konsolidasi aset negara tidak terkonsentrasi pada pusat-pusat pertumbuhan tertentu.
Ia menilai BUMN mempunyai jaringan, modal, teknologi, dan kemampuan investasi yang dapat menjadi katalis munculnya pusat ekonomi baru di berbagai wilayah Indonesia.
Baca Juga:
Investasi Kumulatif KEK Capai Rp368 Triliun, MARTABAT Prabowo-Gibran: Indonesia Makin Kompetitif di Mata Investor
“BUMN yang semakin sehat harus mampu menjadi lokomotif pemerataan karena kekuatan perusahaan negara seharusnya dapat menarik investasi, membuka industri baru, membangun konektivitas, dan menciptakan lapangan kerja sampai ke daerah,” kata Tohom.
MARTABAT Prabowo-Gibran berpandangan pertumbuhan laba semester I 2026 menjadi modal awal yang positif, namun keberhasilan transformasi BUMN di bawah Danantara tetap harus dinilai dalam horizon jangka panjang.
Tohom menyebut peningkatan laba, efisiensi, tata kelola, kualitas investasi, kontribusi terhadap penerimaan negara, dan kemampuan menciptakan nilai ekonomi baru harus bergerak dalam arah yang sama.