Bank Mandiri membukukan laba Rp30,41 triliun atau tumbuh 24,3 persen, sementara Pertamina Geothermal Energy mencatat laba US$79,61 juta atau meningkat 15,5 persen.
Menurut Tohom, angka tersebut menunjukkan besarnya kekuatan ekonomi yang berada dalam ekosistem BUMN dan harus dikelola sebagai satu kekuatan strategis nasional.
Baca Juga:
Evyap Resmi Beroperasi di KEK Sei Mangkei, MARTABAT Prabowo-Gibran: Hilirisasi Indonesia Semakin Kompetitif
“Kalau kekuatan BUMN dapat dikonsolidasikan dengan benar, Indonesia bukan hanya memiliki kumpulan perusahaan besar, tetapi mempunyai mesin ekonomi nasional yang mampu menjadi penggerak industrialisasi, investasi, penciptaan lapangan kerja, dan kemandirian ekonomi,” ujarnya.
Ia melihat keberadaan Danantara membuka peluang untuk membangun pola pengelolaan aset negara yang lebih terintegrasi sehingga setiap BUMN tidak lagi hanya dinilai berdasarkan performa korporasinya masing-masing.
Menurut Tohom, ukuran keberhasilan berikutnya adalah kemampuan konsolidasi tersebut menciptakan sinergi antarsektor dan meningkatkan daya saing perusahaan negara dalam menghadapi kompetisi global.
Baca Juga:
Investasi Kumulatif KEK Capai Rp368 Triliun, MARTABAT Prabowo-Gibran: Indonesia Makin Kompetitif di Mata Investor
“BUMN perbankan, energi, pertambangan, telekomunikasi, pangan, logistik, dan industri jangan berjalan dalam ruang masing-masing karena kalau kekuatan itu disinergikan, daya ungkitnya terhadap perekonomian Indonesia akan jauh lebih besar,” kata Tohom.
MARTABAT Prabowo-Gibran juga menilai pembalikan kinerja sejumlah perusahaan dari rugi menjadi laba merupakan perkembangan yang layak mendapat perhatian.
Krakatau Steel tercatat berbalik dari kerugian sekitar Rp1,74 triliun menjadi laba sekitar Rp150 miliar hingga Rp185 miliar.