WAHANANEWS.CO, Jakarta - Organisasi Relawan Nasional MARTABAT Prabowo-Gibran mengapresiasi langkah PT Bali Turtle Island Development (BTID) bersama Desa Adat Serangan yang membangun ekosistem ekonomi sirkular melalui program Serangan Non-Organic Waste Initiative (SNOWI).
Aksi ini dinilai jadi contoh nyata bagaimana kolaborasi antara dunia usaha, masyarakat, dan teknologi mampu menciptakan pengelolaan lingkungan yang bernilai ekonomi.
Baca Juga:
Investasi Kumulatif KEK Capai Rp368 Triliun, MARTABAT Prabowo-Gibran: Indonesia Makin Kompetitif di Mata Investor
"Program seperti SNOWI menunjukkan bahwa persoalan sampah tidak harus selalu dipandang sebagai beban, tetapi dapat diubah menjadi sumber nilai ekonomi jika dikelola dengan sistem yang baik, transparan, dan melibatkan masyarakat secara aktif," kata Ketua Umum MARTABAT Prabowo-Gibran, KRT Tohom Purba.
Menurut Tohom, pendekatan berbasis digital yang diterapkan dalam pengelolaan sampah merupakan terobosan penting karena seluruh proses menjadi lebih akuntabel, mulai dari pengumpulan, penimbangan, pencatatan, hingga penyaluran hasil daur ulang.
Ia menilai sistem digital tersebut juga mampu membangun kepercayaan masyarakat karena seluruh transaksi dapat dipantau secara terbuka dan terdokumentasi dengan baik.
Baca Juga:
Hampir 10 Tahun Berjalan, MARTABAT Prabowo-Gibran: KEK Tanjung Kelayang Butuh Terobosan Baru
"Model seperti ini layak menjadi rujukan nasional karena mampu menggabungkan aspek lingkungan, pemberdayaan masyarakat, dan pemanfaatan teknologi dalam satu ekosistem yang saling mendukung," ujarnya.
Tohom mengatakan keberhasilan pengelolaan sampah tidak hanya ditentukan oleh tersedianya infrastruktur, tetapi juga oleh perubahan budaya masyarakat yang didukung sistem yang sederhana dan mudah diterapkan.
Menurutnya, keterlibatan desa adat dalam program SNOWI menjadi kekuatan tersendiri karena mampu memperkuat partisipasi masyarakat sejak dari sumber penghasil sampah.