WAHANANEWS.CO - Kinerja PT Unilever Indonesia Tbk melesat pada kuartal I-2026 dengan laba bersih naik 14,1 persen menjadi Rp1,3 triliun, menandai penguatan bisnis di tengah tantangan ekonomi yang masih berlangsung.
Perseroan mencatat penjualan domestik tumbuh 3,5 persen yang ditopang pertumbuhan volume dasar sebesar 2,1 persen, sementara penjualan bersih dari operasi yang dilanjutkan mencapai Rp8,4 triliun atau naik 2,8 persen dibanding periode sama tahun sebelumnya.
Baca Juga:
Trump Kesal ke Jerman, Pasukan AS Terancam Dipangkas
Dari sisi profitabilitas, Unilever Indonesia membukukan laba bersih dari operasi yang dilanjutkan sebesar Rp1,3 triliun atau meningkat 14,1 persen secara tahunan.
Marjin kotor dari operasi yang dilanjutkan berada di level 48,2 persen atau terkoreksi 18 basis poin secara tahunan, namun jika tidak memasukkan biaya transformasi maka marjin kotor tetap berada di level 48,8 persen.
Laba sebelum pajak dari operasi yang dilanjutkan juga meningkat menjadi 18,9 persen atau naik 167 basis poin dibandingkan tahun lalu.
Baca Juga:
KPK Panggil 3 Bos Travel, Kasus Korupsi Kuota Haji Eks Menag Yaqut Makin Panas
Pada kuartal pertama 2026, Unilever Indonesia juga telah menyelesaikan divestasi bisnis Teh SariWangi.
Presiden Direktur Benjie Yap mengatakan capaian kuartal pertama menjadi langkah penting bagi perseroan untuk melanjutkan momentum pertumbuhan yang telah dibangun sepanjang 2025.
"Hasil kuartal pertama 2026 kami menandai langkah penting untuk terus maju, mencerminkan momentum yang telah dibangun sepanjang tahun 2025. Di tengah kondisi eksternal yang masih menantang, langkah-langkah disiplin yang telah kami jalankan selama setahun terakhir mulai menunjukkan kemajuan pada kualitas pertumbuhan, kekuatan eksekusi di pasar, serta ketangguhan kinerja keuangan Perseroan," ujar Benjie Yap dalam keterangan tertulis, Kamis (30/4/2026).
"Hasil kinerja kuartal pertama ini semakin memperkuat keyakinan kami bahwa bisnis kami berada dalam jalur kemajuan yang positif, didukung oleh fundamental yang terus membaik serta momentum yang semakin menguat," sambungnya.
Unilever Indonesia menyebut strategi bisnis perseroan bertumpu pada tiga pilar utama yakni kategori, saluran penjualan, dan biaya untuk mendukung pertumbuhan jangka panjang yang lebih berkualitas.
Pada pilar kategori, perseroan fokus membangun minat konsumen lebih luas melalui optimalisasi portofolio di segmen yang tumbuh lebih cepat serta mempercepat strategi social first demand creation agar inovasi produk tetap relevan.
Perseroan juga meningkatkan keterjangkauan produk melalui peluncuran kemasan dengan harga lebih bernilai serta memperluas aktivasi merek agar menjangkau lebih banyak konsumen.
Untuk memperkuat merek inti, Unilever Indonesia menerapkan pendekatan 6P yakni Product, Packaging, Proposition, Promotion, Place, dan Pricing, sementara kontribusi segmen pertumbuhan tinggi meningkat dari 8,3 persen pada kuartal I-2025 menjadi 10 persen pada kuartal I-2026.
Pada sisi saluran penjualan, pertumbuhan domestik sebesar 3,5 persen didukung momentum di kanal General Trade dan Modern Trade serta kontribusi dari Health and Beauty dan Digital Commerce.
Unilever juga terus mendorong pertumbuhan kanal masa depan melalui pengembangan portofolio sesuai kebutuhan konsumen, penguatan kemitraan strategis, serta peluncuran produk baru seperti TRESemmé Silk Press dan kerja sama dengan AS Watsons.
Digital Commerce menjadi salah satu prioritas dengan memanfaatkan momentum pasar, memperkuat visibilitas pencarian, serta menggandeng komunitas affiliate untuk memperluas jangkauan.
Dari sisi biaya, perseroan terus meningkatkan marjin kotor melalui produktivitas di seluruh lini bisnis dan percepatan transformasi digital.
Seiring pemulihan volume penjualan, dampak leverage operasional mulai terlihat pada kinerja laba rugi dan membantu menopang marjin meski masih ada tekanan dari kenaikan biaya input serta pergerakan nilai tukar mata uang asing.
Ke depan, Unilever Indonesia akan tetap fokus mendorong pertumbuhan yang melampaui pasar dan mengantisipasi tekanan eksternal dengan target peningkatan margin secara moderat sepanjang 2026.
"Meskipun kondisi pasar terus berubah, kami tetap memperkirakan adanya peningkatan margin yang moderat untuk tahun 2026 secara keseluruhan. Prioritas kami tetap sama: memperkuat fondasi bisnis, mewujudkan pertumbuhan yang konsisten, dan menciptakan nilai yang berkelanjutan bagi para pemegang saham," tutup Benjie.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]