WahanaNews.co, Jakarta - Minggu, (3/5), kawasan parkir Kementerian Perdagangan tampak berbeda dari biasanya. Ratusan sangkar burung yang tertata rapi dengan balutan kain aneka warna memenuhi area tersebut. Di balik jeruji kayu, suara kicau bersahutan menciptakan suasana semarak dalam gelaran “Lomba Burung Berkicau dan Festival UMKM”.
Ketika lomba dimulai dan kain penutup sangkar dibuka, suasana langsung berubah riuh. Berbagai jenis burung, mulai dari branjangan hingga murai batu, saling memamerkan suara terbaiknya. Kicauan yang lantang dan ritmis bukan hanya menjadi penilaian utama kompetisi, tetapi juga mencerminkan besarnya ekosistem industri hobi burung berkicau di Indonesia.
Baca Juga:
Terkait Perpres 27 Tahun 2026: Grab Siap Kolaborasi dengan Pemerintah
Tak hanya arena gantangan yang menjadi pusat perhatian, deretan tenda pameran UMKM di sekitar lokasi turut dipadati pengunjung. Para pehobi, perajin sangkar, peternak, hingga produsen pakan burung tampak aktif berbincang dan bertukar pengalaman.
Bagi pelaku usaha, ajang seperti ini menjadi kesempatan penting untuk lebih dekat dengan komunitas sekaligus memahami kebutuhan pasar secara langsung. Berbagai produk pakan, aksesori, hingga sangkar hasil karya perajin lokal dipamerkan untuk menarik perhatian para pengunjung.
Suasana tersebut memperlihatkan bagaimana ekosistem hobi burung berkicau tumbuh secara beriringan. Tidak hanya melibatkan pehobi, tetapi juga pelaku usaha dan komunitas yang saling mendukung satu sama lain.
Baca Juga:
PLN UID Suluttenggo Latih UMKM Sulut Tingkatkan Literasi Perpajakan dan Kepatuhan Pajak
Menariknya, penyelenggaraan acara ini disebut berlangsung tanpa menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Seluruh kegiatan terlaksana melalui kolaborasi berbagai pihak yang berada dalam ekosistem hobi burung berkicau.
Dukungan terhadap kegiatan ini juga terasa dekat dengan Menteri Perdagangan yang diketahui memiliki ketertarikan terhadap dunia burung berkicau. Kedekatan tersebut membuatnya memahami bahwa hobi ini bukan sekadar aktivitas rekreasi, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi bagi banyak sektor, mulai dari peternak, perajin sangkar, hingga produsen pakan burung.
Salah satu tenda yang ramai dikunjungi adalah milik Gold Coin, jenama pakan burung yang cukup dikenal di kalangan pehobi. Marketing Communication Assistant Manager Gold Coin, Rahardan Apriadji atau Ardan, terlihat aktif berdiskusi dengan pengunjung mengenai berbagai jenis pakan burung yang ditawarkan.
Ia menjelaskan bahwa produk Gold Coin menyediakan berbagai pilihan nutrisi, mulai dari pelet hingga biji-bijian, yang disesuaikan dengan karakteristik burung kicau seperti murai batu, cucak ijo, dan kenari.
Menurut Ardan, partisipasi dalam acara ini bukan hanya untuk berjualan, tetapi juga membangun hubungan yang lebih kuat dengan komunitas burung berkicau.
“Ini adalah event nasional yang langsung menyentuh pehobi. Di sini bukan hanya ada pengguna, tetapi juga peternak, influencer, sampai pemerintah. Kami sangat terbuka untuk kolaborasi,” ujar Ardan.
Ia menambahkan, produk Gold Coin dikembangkan dengan formulasi nutrisi yang disesuaikan dengan kebutuhan burung. Meski basis produksinya berada di dalam negeri, pengembangannya dilakukan dengan standar internasional.
Menariknya, antusiasme pengunjung terhadap produk pakan burung di lokasi disebut melampaui ekspektasi. Awalnya, Gold Coin hanya berfokus membagikan sampel gratis, tetapi banyak pengunjung yang ternyata sudah mengenal produk tersebut dan langsung melakukan pembelian.
“Kami awalnya fokus bagi-bagi sampel, tapi ternyata banyak yang sudah pakai dan langsung beli saat tahu kami ada di sini,” kata Ardan.
Ia juga melihat tren hobi burung berkicau masih terus berkembang dan memiliki komunitas yang solid. Berbagai perlombaan dan kegiatan rutin dinilai menjadi faktor yang menjaga ekosistem ini tetap hidup.
Ardan berharap semakin banyak generasi muda yang tertarik masuk ke komunitas pelestari burung berkicau agar ekosistem tersebut dapat terus berkembang secara berkelanjutan.
Menurutnya, sinergi antara pemerintah, komunitas, dan pelaku usaha menjadi faktor penting dalam menjaga keberlangsungan industri berbasis hobi tersebut.
“Harapannya, kegiatan seperti ini bisa terus diperbanyak, baik dalam bentuk kegiatan maupun promosi lainnya. Kami juga berharap adanya regulasi yang bisa saling mendukung untuk semua pihak, baik pemain maupun produsen,” tutupnya.
Di penghujung acara, lomba burung berkicau ini menegaskan bahwa di balik setiap kicauan burung juara, terdapat rantai ekonomi yang melibatkan banyak pihak. Mulai dari peternak di daerah, perajin sangkar lokal, hingga industri pakan, seluruhnya bergerak dalam satu ekosistem yang saling menghidupi.
Fenomena ini menjadi gambaran nyata bagaimana ekonomi kreatif dapat tumbuh dari sebuah hobi, berkembang melalui komunitas, dan pada akhirnya memberikan kontribusi terhadap penguatan ekonomi nasional.
[Redaktur: Jupriadi]