WahanaNews.co, Palembang - Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menegaskan ketersediaan stok minyak goreng di Indonesia tetap melimpah, terutama menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Ramadan dan Idulfitri 2026. Pernyataan ini disampaikan setelah ia memantau langsung aktivitas produksi di PT Indokarya Internusa, Palembang, Sumatera Selatan, Kamis (12/2).
Menurut Mendag Budi Santoso, kuatnya pasokan di tingkat produsen menjadi fondasi pemerintah untuk menjaga stabilitas pasokan pangan di masa HBKN.
Baca Juga:
Kemendag Percepat Rehabilitasi Perdagangan Pascabencana di Aceh dan Sumatra
“Stok cukup, tidak ada masalah. Namun, kita tetap antisipasi. Pada dasarnya, produksi untuk kebutuhan sehari-hari cukup dan tidak ada masalah, termasuk untuk Ramadan. Bahan bakunya juga tidak ada masalah, semua terjaga,” kata Mendag usai meninjau fasilitas produksi PT Indokarya Internusa.
Mendag juga mendorong pelaku usaha untuk memanfaatkan berlimpahnya bahan baku minyak goreng dengan memperluas produksi minyak goreng kemasan ekonomis atau second brand. Ia meminta produsen meningkatkan distribusi minyak goreng second brand ke pasar dan toko ritel, sehingga masyarakat memiliki lebih banyak pilihan produk berkualitas dengan harga terjangkau.
“Minyak goreng second brand itu temannya MINYAKITA dan di pasar saya lihat sudah banyak beredar. Kami meminta para produsen mulai meningkatkan produksinya, agar masyarakat punya banyak pilihan dalam membeli minyak goreng yang murah tapi tetap berkualitas,” ujar Mendag.
Baca Juga:
Mendag Budi Santoso Lepas Ekspor Perdana Pet Food PT EMI ke Filipina
Minyak goreng second brand menjadi alternatif bagi konsumen selain MINYAKITA maupun berbagai minyak goreng premium. Program MINYAKITA awalnya digagas untuk mengintervensi harga minyak goreng melalui mekanisme Domestic Market Obligation (DMO), namun kini menjadi indikator tunggal ketersediaan dan stabilisasi harga minyak goreng di pasar.
Mendag Budi Santoso menekankan bahwa menggencarkan produksi dan distribusi second brand penting untuk membentuk psikologi pasar dan konsumen terkait pasokan dan harga minyak goreng.
“Kalau misalnya MINYAKITA belum masuk ke pasar, kesannya minyak goreng langka, padahal masih banyak pilihan lain. Pun ketika harga MINYAKITA melebihi Harga Eceran Tertinggi (HET), kesannya mahal, padahal merek-merek second brand banyak tersedia,” jelasnya.