WAHANANEWS.CO, Jakarta - Arah perdagangan minyak sawit global bergeser signifikan setelah Amerika Serikat menyepakati tarif bea masuk 0 persen untuk crude palm oil (CPO) dan produk turunannya melalui skema Agreement on Reciprocal Tariff (ART), kebijakan yang membuka peluang ekspor langsung sawit Indonesia ke pasar AS dalam skala lebih besar, Selasa (10/2/2026).
Selama ini Indonesia mengekspor sekitar 6 juta ton CPO ke Amerika Serikat setiap tahun, namun hanya sekitar 2–2,5 juta ton yang dikirim secara langsung sementara sebagian besar lainnya masuk ke AS melalui negara-negara Eropa seperti Prancis, Jerman, Spanyol, Belanda, dan Italia untuk kemudian dire-ekspor.
Baca Juga:
Dendam Sawit Berujung Maut, Dua Warga PALI Tewas Dibantai
Direktur Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI) Tungkot Sipayung menilai kebijakan tarif nol persen tersebut berpotensi mengubah peta perdagangan global minyak sawit sekaligus menekan posisi Uni Eropa dalam rantai pasok internasional.
“Peta politik perdagangan berubah pasca Donald Trump,” kata Tungkot di Jakarta, Selasa (10/2/2026).
Menurutnya, keputusan Amerika Serikat membuka pasar dengan tarif nol persen akan membuat arus perdagangan sawit global lebih langsung mengalir ke AS tanpa melalui Eropa sebagai perantara.
Baca Juga:
Heppy Trenggono: Sawit Indonesia, Jangan Salah Sasaran
“AS membuka pasarnya dengan tarif nol persen untuk sawit, dan ini tentu mengancam posisi Eropa karena volume perdagangan bisa langsung mengalir ke Amerika,” ujarnya.
Ia menjelaskan, kondisi tersebut menjadi salah satu alasan mengapa sikap politik Eropa terhadap sawit Indonesia mulai melunak, mengingat selama ini sebagian sawit yang masuk ke Eropa pada akhirnya kembali diekspor ke Amerika Serikat dan negara lain.
“Ini soal dagang, bukan semata soal keberlanjutan,” kata Tungkot.