WAHANANEWS.CO, Jakarta - Keluhan investor asing kembali mencuat dan menjadi alarm keras bagi pemerintah, setelah Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan bahwa banyak pelaku usaha luar negeri mengalami kesulitan serius saat menanamkan modal di Indonesia.
Purbaya menyebut aduan tersebut datang dari investor yang sudah maupun yang baru berencana masuk ke Tanah Air, termasuk dari Singapura dan sejumlah negara lain, dalam media briefing di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Rabu (31/12/2025).
Baca Juga:
Tambang Boleh Diatur, Tapi Jangan Dimatikan: Jalan Khusus Belum Ada, Industri Sudah Dipaksa Berhenti
"Sudah banyak akan mengadukan dari luar negeri, Singapura dan negara-negara lain," ujar Purbaya.
Ia menjelaskan, sebagian pengusaha asing tersebut bahkan telah lebih dulu menanamkan investasinya di Indonesia sebelum menyampaikan keluhan yang kini menjadi perhatian pemerintah.
"Yang pengusahanya punya investasi di sini, beberapa sudah masuk kali," katanya.
Baca Juga:
MARTABAT Prabowo-Gibran Sebut Sektor UMKM Akan Terdongkrak dengan Pengembangan Kawasan Aglomerasi Solo Raya
Meski demikian, Purbaya menilai optimisme investor asing mulai tumbuh seiring langkah pemerintah yang fokus mengurai hambatan usaha yang selama ini mengganjal aktivitas bisnis.
Pemerintah, lanjutnya, tengah mengintensifkan identifikasi persoalan melalui forum debottlenecking yang kini rutin digelar untuk memetakan kendala konkret yang dihadapi pelaku usaha.
"Harusnya itu akan pelan-pelan kita hilangkan," ucap Purbaya.
Ia menegaskan bahwa hambatan-hambatan yang mengganggu iklim bisnis akan ditangani secara bertahap agar dunia usaha dapat bergerak lebih leluasa.
"Hal-hal yang menghambat bisnis para pelaku usaha di sini," katanya.
Menurut Purbaya, perbaikan iklim investasi memang tidak bisa terjadi secara instan, namun konsistensi arah kebijakan diyakini akan memberi dampak positif dalam jangka menengah.
"Saya yakin kalau itu dijalankan dengan konsisten, iklim investasi akan bergerak semakin baik," ujarnya.
Ia menambahkan bahwa perubahan drastis bukan sesuatu yang realistis, namun tren perbaikan seharusnya terus menguat dari waktu ke waktu.
"Saya mau bilang, drastis perubahan kan enggak mungkin, jadi seharusnya semakin baik," kata Purbaya.
Seiring dengan perbaikan iklim usaha tersebut, Purbaya optimistis target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 6 persen pada 2026 dapat tercapai.
"Tahun 2026, harusnya pertumbuhan 6 persen seperti yang saya bilang sebelum-sebelumnya tidak terlalu sulit tercapai," ujarnya.
Ia memaparkan bahwa pada 2025 pertumbuhan ekonomi nasional masih berada pada kisaran yang solid meski mengalami sedikit penyesuaian.
"(Tahun) 2025 kita masih angka ruang keempat di atas 5,5 persen," ucap Purbaya.
Ia menyebutkan bahwa secara tahunan, pertumbuhan ekonomi 2025 diperkirakan berada di kisaran 5,2 persen.
"Full year-nya sekitar 5,2 persen," katanya.
Untuk mengejar target tersebut, Purbaya mendorong percepatan belanja fiskal sejak awal tahun serta penguatan koordinasi kebijakan dengan otoritas moneter.
Ia menekankan pentingnya sinkronisasi antara kebijakan fiskal dan moneter agar arah kebijakan ekonomi nasional berjalan sejalan.
Purbaya mengungkapkan bahwa komunikasi intensif dengan Bank Indonesia terus dilakukan guna memastikan keselarasan kebijakan.
Di sisi lain, ia mengklaim pemerintah berkomitmen meninjau dan memperbaiki regulasi yang selama ini dinilai mengganggu aktivitas usaha.
"Nanti peraturan-peraturan yang mengganggu kita akan deteksi dan kita akan perbaiki secepatnya," ujarnya.
Ia menutup dengan keyakinan bahwa langkah-langkah tersebut cukup untuk mendorong pertumbuhan ekonomi hingga 6 persen atau bahkan lebih.
"Jadi itu aja sudah cukup untuk tumbuh 6 persen atau lebih," kata Purbaya.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini].