WAHANANEWS.CO, Jakarta - Pemerintah terus memantau perkembangan situasi global yang saat ini diwarnai oleh meningkatnya ketegangan geopolitik serta fluktuasi pasar keuangan internasional.
Di tengah dinamika tersebut, Pemerintah memastikan bahwa kondisi fundamental ekonomi Indonesia tetap berada dalam posisi yang kuat dan tangguh.
Baca Juga:
Pemerintah Salurkan BSPS 2026, 19 Rumah di Humbang Hasundutan Siap Diperbaiki
Ketahanan ini didukung oleh koordinasi kebijakan yang solid antar lembaga serta daya tahan ekonomi domestik yang tetap terjaga dengan baik.
Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Haryo Limanseto, menyampaikan bahwa Pemerintah terbuka terhadap berbagai pandangan dari masyarakat sebagai bagian dari proses penyempurnaan kebijakan.
Ia menegaskan bahwa kondisi ekonomi nasional saat ini masih berada dalam jalur yang stabil dan mampu menghadapi tekanan global.
Baca Juga:
Program SUGT 2026 Resmi Dibuka, Pemerintah Perkuat Ekosistem Pendidikan Menuju Indonesia Emas
“Kami menghormati berbagai pandangan dari masyarakat, perlu kami tambahkan bahwa Pemerintah memastikan bahwa kondisi fundamental ekonomi Indonesia saat ini tetap kuat dan resilian, ditopang oleh beberapa faktor utama,” ujar Juru Bicara Haryo.
Lebih lanjut, Haryo menjelaskan bahwa stabilitas makroekonomi Indonesia tetap terjaga secara konsisten.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2025 tercatat sebesar 5,11 persen secara tahunan (year on year), angka yang relatif tinggi dibandingkan dengan negara-negara sekelas.
Sementara itu, tingkat inflasi tetap berada dalam kisaran target 2,5±1 persen yang menunjukkan pengendalian harga berjalan dengan baik.
Pemerintah terus menjaga stabilitas tersebut melalui berbagai kebijakan pengendalian inflasi serta langkah strategis dalam menjaga kestabilan harga di pasar.
Dari sisi permintaan domestik, konsumsi masyarakat masih menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi nasional.
Hal ini diperkuat dengan berbagai stimulus fiskal serta program bantuan sosial yang terus digulirkan Pemerintah untuk menjaga daya beli masyarakat.
Di sektor riil, aktivitas industri manufaktur menunjukkan tren positif dengan Purchasing Managers’ Index (PMI) yang mencapai angka 53,8.
Capaian tersebut menandakan sektor manufaktur berada dalam fase ekspansi dan menjadi yang tertinggi dalam dua tahun terakhir.
Dari sisi fiskal, kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) juga menunjukkan kinerja yang solid.
Hingga Februari 2026, penerimaan pajak tercatat tumbuh sebesar 30,4 persen secara tahunan.
Peningkatan ini didukung oleh reformasi perpajakan yang terus dilakukan Pemerintah serta implementasi digitalisasi melalui sistem coretax yang semakin memperkuat basis penerimaan negara.
Selain itu, tingkat kepatuhan wajib pajak juga mengalami peningkatan seiring dengan transformasi sistem perpajakan yang lebih modern.
Ketahanan di sektor pangan dan energi nasional juga terus diperkuat sebagai bagian dari strategi menghadapi ketidakpastian global.
Indonesia telah berhasil mencapai swasembada pada sejumlah komoditas pangan utama.
Di sektor energi, Indonesia juga mencatat surplus produksi melalui pengembangan program biodiesel yang berkelanjutan.
Kondisi ini menjadi bantalan penting dalam menghadapi dampak dari berbagai konflik geopolitik yang terjadi di dunia.
Pemerintah juga terus mendorong transformasi ekonomi melalui berbagai kebijakan strategis.
Langkah tersebut mencakup hilirisasi industri, peningkatan investasi, serta percepatan digitalisasi di berbagai sektor.
Pengembangan industri kendaraan listrik dan energi baru terbarukan menjadi fokus utama dalam menciptakan sumber pertumbuhan ekonomi baru yang berkelanjutan.
Ke depan, Pemerintah optimistis bahwa perekonomian Indonesia akan tetap tumbuh positif.
Pada tahun 2026, pertumbuhan ekonomi diproyeksikan mencapai sekitar 5,4 persen dengan stabilitas yang tetap terjaga.
Reformasi struktural yang terus berjalan diharapkan mampu memperkuat daya tahan ekonomi nasional dalam jangka panjang.
Pemerintah juga akan terus mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam merespons dinamika global yang terus berkembang.
Langkah ini dilakukan agar kebijakan yang diambil tetap adaptif dan responsif terhadap perubahan situasi internasional.
“Kami akan terus menjaga stabilitas dan memastikan kebijakan yang diambil adaptif terhadap perkembangan global, sehingga perekonomian nasional tetap tumbuh positif dan berkelanjutan,” pungkas Juru Bicara Haryo.
[Redaktur: Ajat Sudrajat]