"Sebelum Trump naik ini memang perang dagang sudah berlangsung. Dan macam-macam jenis industri itu macam-macam ada yang kena tarif 10% sampai dengan 25%. Dan kedepannya seperti apa gitu, kemungkinan besar tentunya yang kita prediksi itu more or less the same," sebut Juliani.
Ia menegaskan bahwa Indonesia harus siap memanfaatkan peluang, tidak hanya dari investor China, tetapi juga dari negara-negara lain.
Baca Juga:
PT Pertamina EP Bunyu Field Gelar Pemeriksaan Kesehatan Gratis di Puskesmas Bunyu
Menurut Juliani, Indonesia memiliki daya tarik tersendiri karena produk yang diproduksi di dalam negeri tidak akan terkena tarif ekspor yang diberlakukan oleh Trump.
"Jika saya lihat, selain keuntungan dari bebas tarif ekspor ke Amerika, Indonesia juga memiliki faktor pendukung lainnya," ujarnya.
Selain itu, Indonesia menawarkan pasar yang potensial dengan populasi yang mencapai 280 juta jiwa. Ia berharap faktor-faktor ini menjadi pertimbangan utama bagi para investor dalam merencanakan relokasi bisnis mereka.
Baca Juga:
KLH BPLH Tunggu Hasil Penyelidikan Sebelum Beri Sanksi PT MNC Land Lido Bogor
Saat ini, tahap pertama KEK Kendal seluas 1.000 hektare telah terisi sekitar 90%. Untuk menampung lebih banyak investor, pengembangan tahap kedua seluas 1.200 hektare pun telah direncanakan.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]
Ikuti update
berita pilihan dan
breaking news WahanaNews.co lewat Grup Telegram "WahanaNews.co News Update" dengan install aplikasi Telegram di ponsel, klik
https://t.me/WahanaNews, lalu join.