WAHANANEWS.CO, Jakarta - PT PLN (Persero) semakin mempertegas komitmennya dalam mendukung terwujudnya desa mandiri dan berdaya saing melalui kerja sama strategis dengan Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT).
Kolaborasi ini ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) mengenai pemanfaatan serta pengelolaan tenaga listrik untuk mendorong peningkatan ekonomi dan produktivitas masyarakat di desa dan wilayah tertinggal. Penandatanganan tersebut berlangsung di Kantor Kemendes PDT, Jakarta, pada Rabu (29/04/2026).
Baca Juga:
PLN Percepat Proyek PSEL, Dorong Kolaborasi Pemda dan Investor di Tiga Wilayah
Kerja sama ini tidak hanya berfokus pada penyediaan listrik, tetapi juga mencakup integrasi data serta pemetaan kebutuhan energi di desa, percepatan elektrifikasi di daerah yang masih terbatas aksesnya, hingga pemanfaatan listrik sebagai penggerak kegiatan ekonomi produktif.
Selain itu, kolaborasi ini juga diarahkan pada pemberdayaan masyarakat desa, peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM), serta pengembangan energi baru terbarukan (EBT) berbasis potensi lokal.
Langkah ini diharapkan mampu menciptakan sistem energi desa yang mandiri, efisien, dan berkelanjutan.
Baca Juga:
Dukung Industri Digital, PLN Batam Teken PJBTL 511 MVA untuk Proyek Data Center Raksasa
Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal, Yandri Susanto, menegaskan bahwa upaya membangun kemandirian desa secara berkelanjutan membutuhkan strategi terpadu melalui sinergi lintas sektor dan pemangku kepentingan.
Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal, Yandri Susanto, dalam agenda penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dengan PT PLN (Persero) tentang Pemanfaatan dan Pengelolaan Tenaga Listrik dalam Rangka Peningkatan Perekonomian dan Produktivitas di Desa dan Daerah Tertinggal, yang dilaksanakan di Jakarta, pada Rabu (29/04/2026), menyampaikan bahwa kemandirian desa yang berkelanjutan memerlukan langkah strategis untuk mengintegrasikan seluruh sumber daya melalui kolaborasi antar pemangku kepentingan.
"Desa hari ini bukan hanya objek pembangunan tapi subjek pembangunan. Maka saat yang tepat kita harus melakukan dan memastikan semua energi kita untuk kita arahkan ke desa, biar desa itu berdaya, mandiri dan bisa maju. Karena kalau desa maju insyaAllah Indonesia akan maju," jelas Yandri.
Menurutnya, langkah kolaboratif ini juga menjadi implementasi nyata dari mandat Asta Cita ke-6 yang menitikberatkan pada optimalisasi pembangunan desa serta pemberdayaan masyarakat guna mempercepat pemerataan ekonomi dan menekan angka kemiskinan.
“Bapak Presiden mengarahkan kita ini punya desa binaan. Nah jadi nanti dari kampus, dari swasta, dari BUMN, siapapun kita, sejatinya punya desa binaan. Karena kalau kita membangun desa, otomatis membangun Indonesia,” imbuhnya.
Di sisi lain, Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni, Raffi Ahmad, menilai bahwa sinergi lintas sektor seperti ini memiliki peran penting dalam mempercepat kemajuan desa.
Ia juga menekankan bahwa kolaborasi tersebut mampu memperkuat kemandirian desa sekaligus menggerakkan roda perekonomian masyarakat secara berkelanjutan.
Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni, Raffi Ahmad menyatakan kolaborasi lintas sektor akan mendorong kemajuan desa sebagai fondasi pembangunan Indonesia, sekaligus memperkuat kemandirian dan menggerakkan perekonomian masyarakat lokal secara berkelanjutan.
“Ini adalah wujud sinergi yang sangat baik sekali. Luar biasa tentunya berkolaborasi untuk kesejahteraan masyarakat, untuk kemaslahatan banyak pihak,” jelas Raffi.
Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, menyampaikan bahwa PLN berkomitmen penuh dalam menghadirkan akses listrik yang merata, andal, dan berkualitas hingga ke pelosok desa.
Ia menilai ketersediaan energi menjadi fondasi penting dalam menciptakan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru di daerah.
Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo menegaskan komitmen PLN dalam menghadirkan akses listrik yang merata dan andal hingga ke desa-desa sebagai fondasi pertumbuhan ekonomi baru.
“Ini ada semangat bahwa keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia itu bukan hanya tulisan di atas kertas, tapi harus diwujudkan dalam bentuk yang nyata, yaitu desa bukan lagi halaman belakang, tetapi ujung tombak titik-titik pertumbuhan ekonomi baru. Oleh karena itu, bagaimana akses terhadap energinya tidak boleh tertinggal lagi,” tutur Darmawan.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa kolaborasi antar berbagai pihak menjadi faktor kunci dalam membangun ekosistem yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi lokal, membuka peluang usaha baru, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara menyeluruh.
“Tentu saja tidak ada satupun yang bisa melakukan pengentasan kemiskinan ini dalam suasana kesendirian. Sesuai arahan dari Bapak Presiden Prabowo Subianto, ini bisa kita laksanakan kalau kita membangun kolaborasi. Untuk itu kita siap laksanakan dan insyaAllah bisa terwujud,” pungkas Darmawan (Seremoadver).
[Redaktur: Ajat Sudrajat]