WAHANANEWS.CO, Jakarta - Selama bertahun-tahun, warga Dusun Noemuke, Kecamatan Amanuban Selatan, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur (NTT), harus menjalani kehidupan malam dalam keterbatasan akibat belum tersedianya akses listrik.
Ketika matahari tenggelam di balik perbukitan yang mengelilingi wilayah tersebut, aktivitas masyarakat perlahan berhenti karena minimnya penerangan.
Baca Juga:
PLN Salurkan 2.122 Hewan Kurban untuk Lebih dari 206 Ribu Penerima Manfaat di Seluruh Indonesia
Kondisi itu membuat banyak anak harus belajar dengan bantuan lampu pelita berbahan bakar minyak tanah.
Sementara sebagian besar warga memilih beristirahat lebih awal karena tidak memiliki sumber penerangan yang memadai untuk melanjutkan aktivitas pada malam hari. Keterbatasan listrik juga berdampak pada peluang ekonomi masyarakat yang sulit berkembang.
Kini, keadaan tersebut mulai berubah. Sejak Mei 2026, sebanyak 149 kepala keluarga di Dusun Noemuke resmi menikmati layanan listrik PLN selama 24 jam penuh melalui Program Listrik Desa (Lisdes).
Baca Juga:
Pemulihan Kelistrikan Sumatra Rampung, PLN Normalkan 176 Gardu Induk
Kehadiran listrik menjadi tonggak penting dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat sekaligus mempercepat pemerataan pembangunan di daerah yang selama ini masih tergolong terpencil.
Program Lisdes tidak hanya menghadirkan penerangan, tetapi juga membuka akses yang lebih luas bagi masyarakat untuk belajar, bekerja, menjalankan usaha, hingga memanfaatkan berbagai teknologi yang sebelumnya sulit dijangkau.
Kehadiran listrik menjadi simbol hadirnya negara dalam memberikan layanan dasar yang dibutuhkan masyarakat hingga ke pelosok negeri.
Salah satu warga yang merasakan manfaat besar dari program tersebut adalah Mama Maria. Ibu rumah tangga ini mengaku kehidupan keluarganya berubah sejak listrik mulai masuk ke dusunnya.
Petugas PLN melakukan edukasi kelistrikan kepada salah satu warga yang menerima penyambungan listrik program Listrik Desa PLN di Dusun Noemuke, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur
“Kalau dulu malam langsung gelap, anak-anak cepat tidur. Sekarang lampunya terang, mereka bisa duduk belajar lebih lama di meja. PR sekolah jadi selesai, mata juga tidak perih kena asap lagi. Kami sekeluarga senang sekali,” tuturnya.
Menurut Mama Maria, listrik bukan sekadar menghadirkan cahaya di dalam rumah. Lebih dari itu, listrik memberikan kesempatan yang lebih baik bagi anak-anak untuk belajar dengan nyaman, meningkatkan prestasi pendidikan, dan mengejar cita-cita mereka di masa depan.
Perubahan positif juga mulai dirasakan oleh pelaku usaha kecil di dusun tersebut. Yohanes, pemilik warung kelontong, melihat hadirnya listrik sebagai peluang baru untuk mengembangkan usahanya dan meningkatkan pendapatan keluarga.
“Dulu jualan terbatas, barang cepat basi karena tidak ada pendingin. Sekarang ada listrik, saya mau coba beli kulkas kecil. Jadi bisa jual es batu sama minuman dingin untuk warga di dusun. Harapannya ada tambahan penghasilan,” ujarnya.
Kehadiran listrik memungkinkan pelaku usaha seperti Yohanes memperluas jenis barang dagangan yang dijual.
Dengan adanya fasilitas pendingin, produk yang sebelumnya sulit disimpan kini dapat dipasarkan, sehingga membuka potensi ekonomi baru bagi masyarakat setempat.
Bupati Timor Tengah Selatan, Eduard Markus Lioe, menyampaikan apresiasi atas beroperasinya jaringan listrik di Dusun Noemuke.
Menurutnya, pembangunan infrastruktur kelistrikan di wilayah TTS menghadapi tantangan geografis yang tidak ringan, sehingga pelaksanaannya dilakukan secara bertahap.
Petugas PLN melakukan penyambungan listrik tegangan rendah agar dapat melistriki rumah rumah masyarakat di Dusun Noemuke.
“Kami memahami setiap wilayah di Timor Tengah Selatan memiliki tantangan geografis yang berbeda. Pembangunan listrik dilakukan bertahap sesuai kemampuan teknis dan alokasi anggaran. Kami berharap listrik di Noemuke ini bisa membantu anak-anak belajar lebih baik dan warga mulai mengembangkan usaha kecil di rumah,” ujarnya.
Sementara itu, Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, menegaskan bahwa setiap rumah yang berhasil memperoleh akses listrik memiliki cerita perjuangan dan harapan tersendiri.
Oleh karena itu, upaya pemerintah bersama PLN untuk memperluas akses kelistrikan tidak hanya berfokus pada pembangunan jaringan, tetapi juga pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.
“Sebagai badan usaha milik negara yang diberi amanah menyediakan energi listrik, PLN berkomitmen untuk terus menghadirkan akses listrik hingga ke pelosok negeri. Hadirnya listrik menjadi fondasi untuk mempercepat pemerataan pembangunan, menggerakkan roda perekonomian, menciptakan lapangan kerja, serta membantu mengentaskan kemiskinan. Karena itu, PLN terus berkomitmen agar tidak ada lagi masyarakat yang hidup dalam kegelapan,” jelas Darmawan.
PLN menilai keberhasilan menghadirkan listrik ke Noemuke merupakan hasil kerja sama berbagai pihak, mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, tokoh masyarakat, hingga warga setempat yang turut mendukung proses pembangunan infrastruktur kelistrikan.
General Manager PLN Unit Induk Wilayah Nusa Tenggara Timur, F. Eko Sulistyono, menegaskan bahwa upaya menghadirkan listrik ke desa-desa terpencil akan terus menjadi bagian dari komitmen PLN dalam mendukung pembangunan daerah dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Menurut Eko, pembangunan jaringan listrik di wilayah seperti Noemuke bukan pekerjaan yang mudah.
Kondisi geografis yang berbukit serta akses yang terbatas menjadi tantangan tersendiri dalam proses pembangunan infrastruktur.
Untuk melistriki dusun tersebut, PLN membangun Jaringan Tegangan Menengah (JTM) sepanjang 1,03 kilometer sirkuit (kms), Jaringan Tegangan Rendah (JTR) sepanjang 4,9 kms, serta gardu distribusi berkapasitas 50 kVA.
Infrastruktur tersebut kini menjadi tulang punggung pasokan listrik bagi ratusan warga yang sebelumnya belum menikmati layanan kelistrikan.
“Wilayah seperti Noemuke memerlukan kesiapan teknis dan waktu. Dengan infrastruktur yang sudah beroperasi, kami berharap listrik ini dapat dimanfaatkan warga untuk mendukung berbagai aktivitas produktif sehari-hari,” ujarnya.
Kini, suasana malam di Dusun Noemuke tidak lagi identik dengan gelap gulita. Lampu-lampu yang menyala dari rumah ke rumah menjadi simbol perubahan yang membawa optimisme baru bagi masyarakat.
Kehadiran listrik tidak hanya menerangi jalan dan rumah warga, tetapi juga menerangi harapan akan masa depan yang lebih baik, terutama dalam bidang pendidikan, ekonomi, dan kesejahteraan sosial masyarakat di wilayah tersebut (Seremoadver).
[Redaktur: Ajat Sudrajat]