PLN mencatat 66 tower transmisi rusak, terdiri dari 19 tower roboh dan 47 tower mengalami deformasi. Selain itu, akses jalan menuju lokasi perbaikan masih terbatas akibat wilayah yang terisolasi.
“Medan yang berat dan kerusakan transmisi yang parah menuntut kerja ekstra. Namun kami terus melakukan percepatan agar listrik kembali normal, karena ini menyangkut hajat hidup masyarakat,” ujarnya.
Baca Juga:
Listrik Pascabencana Hampir Pulih 100%, PLN Jadi Kunci Percepatan Pembangunan Huntap
Saat ini, dari sekitar 6.500 desa di Aceh, masih terdapat 60 desa atau kurang dari 1 persen yang belum menikmati aliran listrik.
Desa-desa tersebut tersebar di Aceh Barat, Aceh Tamiang, Aceh Timur, Aceh Utara, Bireuen, Bener Meriah, Gayo Lues, dan Aceh Tengah.
Ketua Umum Aliansi Lembaga Perlindungan Konsumen Listrik Nasional (ALPERKLINAS), KRT Tohom Purba, menilai upaya PLN di wilayah bencana menunjukkan pentingnya penguatan sistem kelistrikan nasional yang adaptif terhadap perubahan iklim.
Baca Juga:
Sinergi Pusat–Daerah dan PLN Percepat Pemulihan Infrastruktur Dasar Pascabencana
“Bencana hidrometeorologi kini semakin sering dan kompleks. Apa yang dilakukan PLN, termasuk percepatan pemulihan dan listrik gratis di Huntara, menunjukkan keseriusan menjaga hak dasar masyarakat atas energi,” katanya.
Ia menambahkan, ke depan penguatan infrastruktur transmisi dan distribusi di wilayah rawan bencana perlu terus dipercepat agar sistem kelistrikan semakin tangguh.
“Ketahanan energi adalah bagian dari perlindungan konsumen. Dalam konteks ini, PLN sudah berada di jalur yang tepat,” ujarnya.