WahanaNews.co, Jakarta -
Kementerian Perdagangan melalui Atase Perdagangan (Atdag) RI di Seoul, Korea Selatan, mendukung penguatan diplomasi budaya dan ekonomi kreatif yang diinisiasi Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Seoul.
Salah satu langkah konkret yang dilakukan adalah mempromosikan novel Gadis Kretek dalam versi bahasa Korea sebagai bagian dari upaya mendorong ekspor produk kreatif subsektor penerbitan ke Negeri Ginseng.
Baca Juga:
UMKM BISA Ekspor Semakin Efektif, Capaian Triwulan I-2026 Tembus USD 23,60 Juta
Rangkaian kegiatan promosi ini mencakup konferensi pers bersama media Korea Selatan di ASEAN-Korea Centre, serta acara Book Talk bertajuk
“Beyond the Smoke” yang digelar di Seoul pada 13 Maret 2026. Kegiatan dilanjutkan dengan Book Concert di National Asian Cultural Center (ACC) Gwangju pada 14 Maret 2026.
Antusiasme publik terlihat dari jumlah pendaftar yang mencapai 150 orang. Para peserta juga terlibat aktif dalam diskusi, khususnya terkait sejarah industri kretek serta dinamika sosial budaya Indonesia yang diangkat dalam novel tersebut.
Baca Juga:
Indonesia Siap Perjuangkan Kepentingan Nasional di KTM ke-14 WTO
Dalam konferensi pers, Duta Besar RI untuk Korea Selatan, Cecep Herawan, menegaskan bahwa karya sastra memiliki peran strategis sebagai jembatan pemahaman antarbangsa. Ia menyebutkan bahwa penerbitan Gadis Kretek dalam bahasa Korea bukan sekadar proses alih bahasa, melainkan simbol komitmen bersama untuk memperluas pertukaran budaya antara Indonesia dan Korea Selatan.
Kolaborasi antara KBRI Seoul dan ACC Gwangju juga membuka peluang kerja sama lanjutan, khususnya dalam pengembangan program promosi budaya berkelanjutan yang berorientasi ekonomi.
Dalam kesempatan tersebut, penulis Gadis Kretek, Ratih Kumala, turut memaparkan perjalanan karyanya hingga diadaptasi menjadi serial di platform digital global. Adaptasi ini dinilai mampu memperluas eksposur internasional terhadap narasi dan identitas budaya Indonesia.
Sementara itu, Atase Perdagangan RI di Seoul, Roesfitawati, menyampaikan bahwa peluncuran perdana novel Gadis Kretek dalam bahasa Korea diharapkan dapat menjadi pemicu bagi pelaku industri kreatif Indonesia lainnya untuk memperkuat diplomasi budaya di pasar Korea Selatan.
Menurutnya, sebuah karya sastra tidak hanya menawarkan cerita, tetapi juga dapat menjadi medium promosi berbagai produk dan jasa.
Ia menambahkan, jika dimanfaatkan secara strategis, peluncuran karya kreatif di pasar internasional dapat menjadi praktik terbaik dalam mengintegrasikan budaya dan perdagangan Indonesia di tingkat global.
“Peluncuran novel Gadis Kretek di Korea Selatan merupakan kegiatan literasi sekaligus instrumen soft diplomacy, sarana nation branding, dan pintu masuk bagi ekspansi produk-produk bernilai tambah Indonesia, seperti makanan, minuman, kerajinan, fesyen, hingga pariwisata,” ujar Roesfitawati.
Sebagai bagian dari strategi promosi budaya terpadu, KBRI Seoul juga memperkenalkan kopi Indonesia dalam rangkaian acara tersebut, guna memperkuat citra Indonesia sebagai negara dengan kekayaan budaya dan produk unggulan yang berdaya saing di pasar global.
[Redaktur: Jupriadi]